Belanja Baju

Sekitar dua minggu lalu, saya dan adik pergi ke toko baju. Niatnya mau nyari legging buat adik.

Selagi kami mencari di belantara pakaian, mata saya kecantol sama beberapa kemeja bermotif cantik… Lalu kecantol lagi sama beberapa celana kulot yang koq keknya cakep buat dipake jalan…

Maka saya pun mencari pembenaran untuk membawa pulang baju-baju tersebut dengan mikir, “Celana mesti nambah satu lagi supaya ada cadangan kalo yang lain lagi dicuci… Lalu kemeja pun mesti nambah juga, supaya yang dipakai enggak itu-itu melulu… ” 😁😁

Jadi akhirnya, banyaklah baju-baju yang saya cobain di kamar pas.

Nah, pas dicobain, hal-hal lucu pun terjadi. Yang pinggangnya kekecilanlah, pesaknya enggak enak di badan, kemeja pun kekecilan, sampe warna kemejanya pun, setelah diingat-ingat, ternyata saya udah punya warna kek gitu. 😁 😁😁

Karna baju-bajunya enggak ada yang cocok, saya pun mengembalikan mereka ke tempat semula. Abis itu, saya ke toilet, karna udah kebelet buang air.

Jadi aktifitas memilih baju pun terhenti sementara.

Sekeluar toilet, saya mikir, “Baju saya yang ada masih cukup. Dan celana pun masih cukup. Ada satu yang masih proses jahit. Jadi, sebenere udah cukup.”

(Soal celana yang masih proses jahit itu, saya jahit sendiri, btw. Masih belajar jahit tapinya. 😁😁 Tolong doain ya supaya saya tetap semangat belajar menjahit. Hihihii 😁😁 )

Kemudian, saya mengingat-ingat beberapa orang yang pernah saya tau, yang punya koleksi baju ‘itu lagi itu lagi’; dan bagaimana cara mereka menyiasatinya dengan padu padan agar tak sering-sering belanja baju. Alhasil, saya pun jadi males nyari-nyari baju lagi.

Adik saya pun, ternyata tak suka dengan legging pilihannya setelah ia coba di kamar pas. Jadi singkat kata, kami keluar dari toko tanpa membawa pulang baju-baju tersebut. 😁😁

Hatiku lega, karna Tuhan telah menolong kami from spending money on unnecessary things. πŸ˜‰

Seringkali kita beli barang emang cuma karna lapar mata, kan? πŸ˜„πŸ˜„

Nah, soal yang teringat sama orang-orang tentang koleksi bajunya tadi, kadang kita emang sengaja mencari referensi atau tidak sengaja bertemu orang-orang yang senada dengan kita untuk sekadar merasakan atau mengetahui bahwa, “Oh, ternyata dia juga kek gitu; so it’s okaylah punya koleksi baju dikit. Toh yang penting kan kita tetap pake baju, yang rapih, bersih, dan sesuai konteks. Itu sudah cukup.”

Cukup = berhenti kuatir.
Cukup = tau berbagi.
Cukup = rasa puas atas apa yang kita miliki, dan berusaha menggunakannya selaras dengan kehendak Tuhan.

Jadi, pakailah apa yang ada. Tidak perlu mencari yang tidak ada. 😁😁

Sejak saya belajar untuk tidak lagi menutup diri dan bertemu orang-orang untuk berbagi pengalaman hidup, Tuhan memberi saya kesempatan untuk mengunjungi kawan yang sedang berduka; lalu mendapat kesempatan bertemu orang yang dihantui kesalahan masa lalu dan tampaknya sangat sulit keluar dari trauma tersebut.

Lalu saya juga mendapat kesempatan mendengarkan cerita teman saya yang lain tentang betapa kelamnya masa-masa ketika ia kehilangan ibunya, dan betapa si bolis/iblis ingin menariknya mundur agar ia terpuruk sehingga melupakan anak-anak dan keluarganya. Namun, ia melawan godaan si bolis dengan pertolongan Tuhan.

Saya pun bertemu orang yang menipu dirinya sendiri, menipu Tuhan, serta menipu keluarganya, dengan cara tak beribadah di gereja. Awalnya ia merasa senang melakukan aksinya tersebut. Namun, di kemudian hari orangtuanya sakit, dan ia pun berdoa.

Nah, menurut pengakuannya, yang terjadi dalam masa-masa ia tak pernah beribadah tersebut adalah: doanya tidak manjur.

Ya tentu, gimana mau manjur. Wong kita sendiri aja males ketemu Tuhan, tentu Tuhan pun males juga dengerin doa kita.

Mendekatlah kepada Allah, dan Ia akan mendekat kepadamu,” demikian tertulis dalam Yakobus 4:8a.

Sebenarnya, kondisi atau motivasi hati kitalah yang paling menentukan sewaktu kita datang kepada Tuhan. Apakah tulus ingin mendekat dan mencari Tuhan karna ingin mengenalNya lebih dalam dan mengasihiNya, atau sebenarnya kita datang kepadaNya karna ada udang di balik bakwan; alias ada motivasi tersembunyi. Tuhan tau segalanya.

Saya juga bertemu dengan kawan-kawan yang memiliki berbagai macam pergumulan baik itu dengan anak-anaknya, dengan orangtua, dengan pasangan, dengan sakit penyakit, dengan kehilangan, dengan kesempatan kedua, dlst.

Yang mau saya sampaikan adalah: ketika kita mau membuka diri, kita mungkin akan bertemu dengan orang-orang yang juga sedang bergumul dalam situasi yang sama, senada.

Dan ketika kita mengetahui bahwa orang lain juga mengalaminya, muncul perasaan, “Oh, ternyata saya tidak sendirian melewati semua ini; Oh, ternyata saya ada teman; Oh, ternyata dia pernah ngalamin hal serupa…”

Dengan mendengarkan kisah-kisah mereka, hal itu membuat hati kita lega dan menguatkan kita, serta ingin hidup lebih baik lagi dengan memperbaiki diri dan menolong sesama.

Ketika berbagi dengan orang lain, entah itu berbagi pengalaman maupun yang lain, sebetulnya tidak ada yang hilang dari kita.Β Kita akan dapat berdiri teguh jika kita berdiri bersama orang-orang lain.

 

 

 

 


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s