Ada Ungkapan yang Berkata Begini

Ada ungkapan yang berkata begini: kita bilang kita percaya kepada Tuhan; tetapi dalam menjalani hidup sehari-hari, ciri hidup kita seperti tidak ber-Tuhan. Di mana letak kekeliruannya? Orang yang percaya kepada Tuhan akan memantulkan karakter Tuhan dalam menjalani hidup kesehariannya, karena ia mengikuti jalan Tuhan.

Saya pernah baca satu cerita sederhana yang sangat mengena di hati. Cerita tentang keberadaan Tuhan. 🙂 Jadi, diceritakan bahwa di satu malam yang dingin bersalju, seorang perempuan (sebut saja Olivia) mengucapkan salam kepada seorang perempuan lain yang ia jumpai di jalanan.

“Selamat Natal. Tuhan memberkatimu,” ujar Olivia. Lalu perempuan lain tersebut tidak acuh. “Tidak ada Tuhan dalam hidup ini,” kata si perempuan. “Mengapa Anda berkata begitu?” tanya Olivia. “Kalau memang ada, apa buktinya?” tanya si perempuan.

Olivia terdiam sebentar. Lalu ia melepas jaket tebalnya dan memberikannya kepada perempuan tersebut. “Inilah bukti Tuhan itu ada,” kata Olivia. “Aku memberikan jaketku kepadamu agar Anda merasa hangat,” tambahnya. Kemudian perempuan yang menerima jaket tersebut terharu dan menangis. Mungkin jaket itu adalah hal sederhana. Namun, jaket tersebut adalah sesuatu yang sangat dibutuhkan si perempuan di malam yang dingin bersalju. Itulah ‘kasih’. Itulah Tuhan. 🙂 (1 Yohanes 4:8)

Kita hidup, dan bergerak, dan berada di dunia ini karena kekuasaan Dia (Kisah Para Rasul 17:28). Tuhan menopang hidup kita dengan murah hati, dengan cara-cara yang seringkali tidak dapat kita lihat.

Saat ini saya sedang membaca buku Seri Perjalanan Iman – Hakim-Hakim, yang berisikan 50 hari renungan dan penjelasan mendalam yang ditulis oleh Gary Inrig, terbitan Our Daily Bread. Kitab Hakim-Hakim dalam Alkitab menggambarkan masa kekacauan moral, rohani, dan etika dari bangsa Israel yang saat itu hidup dalam era setelah berakhirnya kepemimpinan Nabi Musa dan Nabi Yosua.

Di dalam kitab Hakim-Hakim, tercatat berkali-kali bangsa Israel yang semakin terpecah-belah tersandung dalam bencana karena ketidakpercayaan dan ketidaktaatan kepada Tuhan. Mereka tergelincir dalam kekacauan karena “setiap orang berbuat apa yang benar menurut pandangannya sendiri” (Hakim-Hakim 21:25).

Namun, di tengah kekacauan tersebut, masih ada orang-orang yang tetap bertahan mengikuti Tuhan dengan setia, dan tetap memercayai Allah dan bersandar kepada-Nya, serta menjadi orang berhati teguh yang memberikan pengaruh iman positif di zaman tersebut.

Membaca renungan ini membuat saya teringat dengan kehidupan pada masa ketika saya tergelincir menjauh dari Tuhan. Kekacauan rohani, moral, dan etika, bukanlah peristiwa yang dapat terjadi dalam seketika, tetapi berangsur-angsur. Bagi orang Israel di zaman tersebut, proses itu dimulai dengan:

  • Sengaja memilih untuk tidak taat dan percaya sepenuhnya kepada Tuhan.
  • Sindrom generasi penerus yang lupa menjaga persekutuan dengan Tuhan, dan mereka mengabaikan firman Tuhan. Ketaatan mereka kepada Tuhan hanya sebatas ritual, bukan karena kesadaran pribadi. Sebatas ritual artinya mereka melakukan firman karena melihat atau mendengar apa yang dilakukan oleh orangtua, pengkhotbah, atau teman. Sedangkan kesadaran pribadi terjadi karena telah mengalami sendiri firman tersebut, merenungkan, mendoakan, dan mendengar suara Tuhan.
  • Mereka tidak bersyukur untuk berkat yang telah diterima, sehingga menjadi egois. Inilah benih kehancuran diri.
  • Mereka menerima pemikiran, nilai, dan kebiasaan asing, yaitu dari bangsa-bangsa yang tinggal di sekitar mereka yang menyembah berbagai berhala. Selanjutnya, mereka mulai mengabaikan pemikiran, nilai, dan kebiasaan asli Israel untuk dapat menyerap hal-hal baru tersebut. Kemudian, ada adaptasi yang semakin kuat terhadap budaya sekitar, sampai akhirnya takluk kepada sesuatu yang dahulu sepenuhnya asing tersebut.

Ada beberapa renungan yang berkesan buat saya. Antara lain:

  • hari 5: Hati yang penuh pujian dan syukur sangat penting dalam kehidupan pribadi, keluarga, serta komunitas. Firman Tuhan meminta kita untuk bersyukur dalam segala hal (1 Tesalonika 5:18).
  • hari 7: Tuhan tidak bisa berdampingan dengan kejahatan. Mustahil memiliki persekutuan dengan Tuhan sembari terus berbuat dosa. Seringkali kita hidup dalam kelemahan dan mengabaikan hadirat Allah hingga semuanya mulai berantakan.
  • hari 9: Pernahkah Anda bertanya-tanya mengapa Allah tidak menghapus natur dosa Anda? Mengapa ada begitu banyak kelemahan dalam hidup Anda dan peliknya masalah serta rintangan yang sulit diatasi? Tuhan memakai kesulitan, kegagalan, maupun berbagai krisis tersebut agar kita menyingkirkan sikap apatis, dan mengajar kita untuk percaya kepada-Nya.
  • hari 17: Berdiri sendiri, kita tidak akan sanggup. Tetapi bersama Allah, kita lebih dari cukup. 🙂
  • hari 18: Alkitab memuat segala sesuatu yang kita perlukan untuk menjadi utuh, dan siap dalam setiap perbuatan baik (2 Timotius 3:16-17).
  • hari 19: Banyak hal yang baik dan bermanfaat, tetapi ketika hal tersebut mengambil tempat milik Tuhan dalam hidup dan hati kita, kita harus melepaskannya.
  • hari 30: Inti pertobatan adalah kembali kepada kenyataan tentang diri sendiri. Penyesalan berkaitan dengan perasaan, sedangkan pertobatan berkaitan dengan kehendak dan menghasilkan perubahan pikiran serta niat. 🙂

Buku ini bagus untuk dibaca orang-orang yang sedang mengalami kekosongan rohani, atau pernah mengalami kekosongan rohani. 🙂 Semoga bermanfaat. 🙂

 

 

 

2 thoughts on “Ada Ungkapan yang Berkata Begini

  1. Wow ….. keren, bahasanya mudah untuk di mengerti 👍
    Ternyata semua yang ada ini hanya belas kasih Tuhan 🙏🙏🙏

    Like

    1. hai edaa 😀 terima kasih udah mampir dan baca yaaa 😀 betul da, hidup kita ini adalah belas kasih Tuhan semata 🙂

      Like

Comments are closed.