Kado bagi Negeri

Sabtu kemarin udah saya jadwalin untuk menulis blog. Saya pikir, setelah makan siang dan beberes, maka akan ada waktu bagi jemari saya untuk menari-nari di atas tuts keyboard leptop. I have lots of stories to share. πŸ˜€ πŸ˜€ Seperti Christa, saya pun merasa alive when i could share stories, be it mine or others. πŸ™‚

Lantas apa yang terjadi? Apakah saya jadi menulis blog?

Setelah makan siang, tak disangka, kami kedatangan tamu dan ngobrol-ngobrol sampe kira-kira jam 4 sore. Saking senangnya mereka datang, saya sampe lupa bahwa saya mestinya menulis blog sore itu. πŸ˜€ Dan setelah mereka pulang, saya teringat bahwa ada satu kegiatan lagi yang ingin saya ikuti, yaitu seminar kebangsaan β€œKado bagi Negeri” dalam rangka memperingati kemerdekaan RI ke-75.

“Masih sempat enggak, ya?” pikir saya. Sambil beberes, saya melihat jam dan ternyata hanya sekitar sepuluh menitan menuju jam lima sore sebelum acaranya dimulai di zoom. Melihat bahwa waktu masih ada, saya pun mencoba masuk ke zoom dan ternyata masih diterima karena kapasitas untuk pesertanya masih cukup. Sukurlah. πŸ™‚ Jadi, sambil beberes, saya pun mulai mendengarkan seminarnya.

**

Jujur, saya tertarik mengikuti seminar ini karena ada nama Tracy Trinita dalam daftar pembicaranya. πŸ˜€ Saya tahu tentang Tracy waktu saya masih SMP. Waktu itu, dalam usianya yang masih sangat muda, 15 tahun, dia memenangi kompetisi pemilihan model di Indonesia, dan sebagai hadiahnya ia berkesempatan pergi ke luar negeri untuk meniti karir modeling.

Setelah lama enggak ngikutin kabar Tracy, satu waktu saya dengar ia bertobat dan belajar mendalami Firman Tuhan. Jadi, jujur, saya penasaran dengan bagaimana ia menyampaikan ide-idenya. πŸ™‚

**

Setelah host membuka acara, Tracy pun dipersilakan sebagai pembicara sesi pertama. Selama sekitar 20 menitan kemudian, ia memberi landasan mengapa kita harus beri sumbangsih bagi Indonesia (khususnya di era pandemi sekarang ini), dan memberi siraman rohani tentang bagaimana dapat bertumbuh dalam iman kepada Tuhan.

Tracy mengambil contoh dari pengalaman hidup beberapa tokoh dalam Alkitab. Pertama, Yusuf, yang karena memiliki hikmat dari Tuhan, ia berhasil mengatur pangan di Mesir sewaktu terjadi kelaparan hebat selama tujuh tahun di seluruh bumi. Kedua, Daniel, yang juga punya hikmat dari Tuhan, dan yang hidupnya tidak tercemar sekalipun ia tinggal di tengah bangsa Babel yang menyembah dewa. Ketiga, Nehemia, pengurus minuman raja di Persia, yang karena cintanya kepada Tuhan ia menjadi arsitek yang membangun kembali kota Yerusalem yang hancur. Ia habis-habisan dihina, dicobai, dijebak, oleh orang-orang yang tidak senang dengan sepak terjangnya.

Jadi apa yang dapat dipelajari atau diteladani dari ketiga tokoh tersebut? Saya rangkum ide-ide dari Tracy dalam daftar di bawah ini:

  1. Masing-masing kita dipanggil oleh Tuhan sesuai dengan kapasitas kita, dan Tuhan pasti memperlengkapi setiap orang yang dipanggilnya menjadi ahli dalam bidangnya.
  2. Belajarlah bagaimana mengembangkan talenta kita, karena semua perlu dipersiapkan. Pandemi ini panjang, jadi kita harus memiliki hikmat dari Tuhan agar dapat bertahan menjalaninya.
  3. Hiduplah di tengah masyarakat tanpa tercemar dengan dunia yang culas, yang korup, dst.
  4. Peduli kepada orang lain dan tidak tamak. Caranya bisa dengan menyisihkan sebagian berkat yang kita punya untuk orang lain.
  5. Mendoakan setiap orang.
  6. Yesus sudah memerdekakan kita dari belenggu dosa, sehingga kita bisa mengasihi orang lain seperti kita mengasihi diri kita sendiri.
  7. Pancasila adalah salah satu hasil pekerjaan dari Buah Roh: Ketuhanan Yang Maha Esa, kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan Indonesia, kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan, dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
  8. Sekecil apa pun sumbangsih kita bagi Indonesia, jika kita melakukannya dengan integritas, Tuhan pasti mengingatnya.
  9. Pikirkan hal-hal yang kekal, bukan hal-hal sementara seperti gedung bangunan.
  10. Kesehatan mental/jiwa mestilah rutin dicek. Istirahat dan pembagian tugas itu perlu dan sangat menolong.
  11. Perkuat pertahanan dari dalam diri, saling hormat.
  12. Hati-hati dengan jebakan maupun godaan si iblis/si jahat.
  13. Kita mesti mempraktekkan hidup yang kita percayai. Walk the talk, istilahnya.
  14. Zaman sekarang, milenial maupun anak-anak muda, atau barangkali kita juga, menghadapi perang keinginan daging, seperti contohnya perang terhadap pornografi, keinginan-keinginan materialistik, dlst. Karena itu, berjalanlah bersama Tuhan. Fondasi kita di dalam Yesus harus kuat. πŸ™‚

Saya suka dengan gagasan yang dijabarkan Tracy. πŸ™‚ Poin nomor 7 membuat saya ‘wow’ kemarin! πŸ˜€ πŸ˜€ Dan poin nomor 4 telah saya dengar selama berminggu-minggu belakangan ini dari renungan di gereja kami. Jadi, saya pun ‘wow’ lagi, dan berpikir, β€œKoq bisa sama, ya, gagasan mereka ini dengan yang disampaikan Tracy?” Ya pastilah, karena mereka tentunya sudah memiliki hikmat dari Tuhan agar dapat menyampaikan pesan dari Tuhan. πŸ™‚

**

Dalam sesi yang kedua, saya mengikutinya masih sambil beresin rumah setelah tamu kami pulang. Di bawah ini beberapa hal yang dapat saya tangkap dari pembicara bernama Frans Meroga, seorang praktisi koperasi:

  1. Saat ini berbagai negara mengalami resesi atau pertumbuhan ekonominya negatif. Singapura yang paling parah, sekitar 40%. Indonesia sekitar 5%.
  2. Yang masih dapat tumbuh adalah sektor pangan, pertanian. Yang hancur lebur adalah sektor akomodasi, transportasi, konstruksi.
  3. Ingat sinergi, saling mengisi.
  4. Berdayakan ekonomi kerakyatan.

Cuman segini aja yang saya catet dari sesi Frans Meroga. Karena, di saat dia berbicara, saya pun lumayan sibuk ngerjain ina-inu, dan jam udah menunjukkan hampir setengah tujuh malam. πŸ˜€ πŸ˜€ Pada titik ini, saya udah mau nutup zoom karena udah sore and i need to get some rest. πŸ˜€ But then, dalam pikiran saya muncul suara: tinggal satu sesi lagi, dengerin aja dulu.

Emang bener sih, di jadwal dicantumin bahwa zoominarnya cuman sampe jam 7 malam. Dan mereka pasti sesuai jadwal. Jadi ya udahlah, saya memutuskan untuk mengikutinya sampai selesai.

**

Nama pembicara di sesi terakhir adalah Engeline Tjia. Sama seperti Frans Meroga, baru kali ini juga saya mendengar nama Engeline Tjia ini. πŸ˜€ Sang host memperkenalkan bahwa darah dagang Engeline sangat kental, karena ia orang marketing. Saya pun makin penasaran. πŸ˜€ πŸ˜€

Ia menggunakan slide dalam presentasinya yang berjudul β€œMerdeka atau Mati”.

Lama saya memandangi judul tersebut, karena keknya udah lama banget enggak mendengar istilah ‘merdeka atau mati’. So, i think it was amazing, dan saya pun bertanya-tanya presentasi macam apa yang akan dibawakan Engeline. πŸ™‚ Apakah ia akan memberikan ide-ide segar tentang usaha kecil menengah (UKM)? Karena, dalam undangannya, seminar ini bertujuan membahas tentang membangkitkan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) di masa krisis akibat pandemi sekarang ini, dan Engeline adalah orang marketing! Siapa lagi yang paling jago ngomongin soal ini kalo bukan orang marketing. Bener, kan? πŸ˜€ Jadi, wajar dong kalo saya makin penasaran yaa.. πŸ˜€ πŸ˜€

Nah, ternyata, Engeline memulainya dengan kalimat,

β€œIni bukan ide musiman….

atau industri rumahan….

tetapi tentang berbagi….”

Wow! Saya pun makin tertarik, karena…. Karena harapan saya udah mulai menukik turun. Hahahhaa….. πŸ˜€ πŸ˜€ πŸ˜€

Oke, saya lanjutkan ya! πŸ˜€

Jadi, Engeline meneruskannya dengan membawa para pendengar ke satu era yang udah lama banget. Yaitu, ke era penciptaan manusia. Lihatlah Adam dan Hawa. Manusia hanya mau berkat Tuhan, tetapi tidak mau turut perintah Tuhan. That hurts, right? 😦 Selang beberapa lama kemudian, hanya Nuh yang saat itu hidup berkenan di mata Tuhan, sehingga ia dan keluarganya diselamatkan dari banjir besar yang didatangkan Tuhan untuk memusnahkan manusia yang saat itu hidup dengan sangat kejam dan jahat.

Namun, setelah era banjir besar lewat dan manusia kembali beranak-pinak, hal tersebut berulang kembali. Manusia hanya mau berkat Tuhan, tetapi tidak mau turut perintah Tuhan. Kejahatan manusia kembali mengerikan. Lihatlah zaman ini. Karena pandemi korona, semua bubar kembali. 😦

**

Orang Israel datang ke Mesir di masa kelaparan hebat yang terjadi di seluruh bumi. Seharusnya, setelah kelaparan usai, mereka kembali ke negeri mereka. Tapi, mungkin karena mereka udah terlalu senang hidup nyaman di Mesir, mereka enggan kembali ke negerinya.

Mesir adalah representasi ‘dunia’, yaitu orang-orang yang tidak mau turut kepada perintah Tuhan. Dan itu adalah pemberontakan. Jadi, Israel memilih hidup dalam pemberontakan selama berapa tahun? Yap, 430 tahun. Selama itulah mereka hidup dan menjadikan Mesir sebagai nilai-nilai identitasnya serta mentalitasnya.

Saya pernah baca ungkapan kayak begini, β€œMengeluarkan orang Israel dari Mesir adalah hal yang sulit, namun, mengeluarkan Mesir dari hati orang Israel adalah hal yang lebih sulit lagi.”

Setelah umat Israel keluar dari Mesir diselamatkan Tuhan dalam pimpinan Musa, mereka bersungut-sungut dan mengeluh karena makan manna setiap hari. Sementara, selama di Mesir, mereka bisa makan daging atau ikan sesukanya. Mengerikan banget, ya, sikap kayak gini? Sedalam itulah ‘Mesir’ menguasai mereka. Semua diukur. Always ask for more. Lebih lagi, lebih lagi, dan lebih lagi.

Sukses menurut dunia atau ‘Mesir’ adalah: faster, higher, stronger, sebelum selesai jangan berhenti. Hidup seperti raja, kerja seperti budak. Makan keliling dunia. Pergi jalan-jalan ke destinasi liburan terbaik dunia. Kerja di perusahaan terbaik dunia.

Nah, pertanyaan pentingnya adalah: apakah seperti itu gaya hidup dari orang yang percaya kepada Tuhan? Apakah Tuhan akan hidup dengan gaya hidup seperti di atas tadi?

Tuhan telah memanggil kita keluar dari ‘mesir’, merdeka dari perbudakan: tiada lagi keterikatan dengan dosa. Hidup kudus. Jadi masihkah kita merantai diri kita pada dosa? Apakah kita tetap pertahankan gaya hidup seperti ‘mesir’?

Sewaktu orang Israel keluar dari Mesir, Tuhan bilang agar diadakan perayaan bagi-Nya, yaitu: makan dan hidup dengan sangat sederhana. Itulah Godly lifestyle. Kasihi Tuhan dan sesama kita. Bagaimana caranya? Seperti apa tindakan yang dapat kita pertanggung jawabkan di hadapan Tuhan?

Contohnya gini, ada temen kita jualan ikan teri, ya kita bantulah misalnya menjadi tenaga penjualnya, atau kita yang memikirkan wadahnya, atau kita yang beri masukan atau saran gimana agar masakannya membaik. Kalo semua orang ingin mengejar kepala bukan ekor, ingin membuat teri nomor satu, lah dimana dong sustainable business-nya ?

Kita hidup di dunia ini bukan sekadar hidup. Kita bertanggung jawab kepada Tuhan. Karenanya, tanya kepada Tuhan, apa sebetulnya panggilan hidup kita? Dan kalo Tuhan udah jawab, patuhi Dia.

Engeline membagikan tiga prinsip bagaimana kita hidup dan bekerja di dunia ini:

  1. Harus setia menjaga dan melestarikan alam.
  2. Belajar menjadi berkat bagi orang lain. Itulah artinya mengasihi sesama, memanusiakan manusia. Ingat, kita harus beri pertanggung jawaban di hadapan Tuhan. Salah satu contohnya: bagaimana cara kita berpakaian? Apakah kita telah memanusiakan manusia, atau jangan-jangan malah membinatangkan manusia? (Dalam poin ini, Engeline menceritakan pengalamannya diterima bekerja di salah satu perusahaan ritel yang mengharuskan dia bekerja dengan memakai tanktop dan hotpants setiap harinya. Karena cintanya kepada Yesus, dan karena bertentangan dengan nilai-nilai imannya, ia memilih meninggalkan perusahaan tersebut).
  3. Memuliakan Tuhan. Artinya membangun relasi dengan Tuhan secara serius. Muliakan Tuhan dengan keputusan-keputusan kita, raih tujuan untuk memuliakan Tuhan, memikirkan hal-hal yang memuliakan Tuhan, dst.

Sebagai penutup, Engeline mengutip dari Galatia 6:2: Hendaklah kalian saling membantu menanggung beban orang lain, supaya dengan demikian kalian menaati perintah Kristus (alkitab BIS). Karena keadaan kita sekarang ini sedang susah, maka kini adalah saatnya kolaborasi, bukan lagi jadi pesaing. Mari pilih mengikut Yesus, dan merdeka dalam hidup kita.

**

Untuk mengakhiri postingan ini, saya mau cerita tentang kejadian beberapa hari yang lalu. Seorang saudara memberitahu bahwa di Sulawesi ada bencana banjir bandang. “Adakah yang terbeban memberikan bantuan?” tulisnya dalam caption foto-foto yang bikin hati menciut melihat situasi di sana. 😦

Hari gini, kita semua sedang sangat berhati-hati untuk menggunakan uang pastinya, ya. Harus bijak deh pokoknya. Jadi, karena saya yakin bahwa kami dapat menolong dengan berbagai cara, dan salah satunya adalah melalui doa, maka saya katakanlah kepadanya bahwa kami akan bantu melalui doa saja. That’s true. Karena, selain memberikan uang, ada berbagai macam bantuan yang dapat kita berikan sesuai talenta kita. Mungkin kita bisa bantu melalui doa, tenaga, pikiran, dlst. Begitulah.

Malamnya, saya susah tidur. I feel like i should’ve sent a few penny for helping them, but i didn’t. Ditambah lagi, saya merasa bahwa saya tidak mempraktekkan iman yang saya percayai. Makanya saya merasa hatiku sangat terbeban. Karena logikanya gini: kalo orang udah ngomong langsung minta bantuan, itu pasti karena hal tersebut adalah sesuatu yang sangat dibutuhkan, kan?

Maka, setelah bergumul dan berpikir dengan akal budi, i decided to send a few penny. Just a small amount to support them. Saya yakin, Tuhan pasti akan mencukupkan kebutuhan kami asalkan kami mau hidup sesuai kehendak-Nya.

Setelahnya, hatiku terasa lega. πŸ™‚ Beban seolah telah diangkat. Untunglah Tuhan menyadarkanku untuk ikut memikirkan kepentingan orang lain, bukan cuma mikirin diri sendiri. πŸ™‚

Hidup kita, baik itu melalui apa yang kita lihat, kita dengar, kita ucapkan – pendek kata, setiap tindakan kita – mestilah dapat dipertanggungjawabkan di hadapan Tuhan.

Kemerdekaan adalah anugerah dari Tuhan. Marilah kita membebaskan banyak orang dari belenggu pembodohan, kemiskinan, ketakutan, dan paradigma diskriminasi. Dirgahayu kemerdekaan Indonesia. πŸ™‚

 

** Β Btw, apa makna merdeka bagi kalian?

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s