Ikut Kelas Pelatihan

Hari Minggu kemarin saya ikut kelas pelatihan dan menjadi sangat ngantuk di sekitar jam 9 malam. Udah pengen pencet ‘leave’ di zoom, tapi rasanya enggak etis gitu, pergi sebelum kelas ditutup. πŸ˜€ πŸ˜€ Akhirnya setelah pelatih kami selesai memberi penjelasan, sesi tanya jawab pun dibuka. Nah, karena pertanyaan dari peserta bagus-bagus, saya pun menahan diri untuk tetap mendengarnya sampai selesai. πŸ˜€ πŸ˜€ Jadi apa tuh pertanyaannya yang bisa bikin mata saya melek? πŸ˜€ πŸ˜€

Sebelum saya terusin, saya mau cerita dulu bahwa saya sempat ingin meninggalkan pelatihan ini di sekitar minggu kedua Agustus kemarin, karena membuat saya stres. πŸ˜€ πŸ˜€ Tapi, sewaktu mengingat kembali bagaimana saya bisa ketemu program ini di saat sebelum covid19 melanda, rasanya bukan kebetulan saya mengikuti pelatihan ini. Saya yakin semua pasti ada prosesnya sampai nanti jadi terbiasa. πŸ™‚

Saya pun teringat dengan pesan seorang kawan di Balikpapan di awal-awal pertobatan saya tahun 2018. “Jangan mandele,” itulah hal pertama yang ia ingatkan kepada saya. Maksudnya, jika ada masalah tidak langsung putus asa atau menyerah. Berjuang dan berusahalah terus. Ingat kembali tujuan kita apa.

Tujuan saya sejak awal mengikuti program pelatihan ini adalah supaya saya tahu dengan jelas apa yang saya percayai; siapa Tuhan, apa iman, apa anugerah, apa keselamatan, dlst.

Saya pun mencoba menguraikan benang kusut dan duduk dengan pikiran tenang serta berdoa, dan bertanya kepada Tuhan: mengapa saya stres? Apa yang menjadi masalahnya?

Jadi, setelah berpikir jernih, ternyata masalahnya adalah: karena saya enggak paham dari dasar. Jadi, kalo dasarnya enggak paham, lah kalo diterusin pun saya enggak bakal dapet chemistry-nya, kan? Pemahaman yang benar akan memengaruhi cara kita memandang sesuatu. Fondasinya mesti kuat kalo kita mau memahami sesuatu. Nah, kalo udah paham, barulah enak dan ringan mengikutinya. πŸ™‚

Saya memang mengikuti program ini cuma sewaktu acara pembukaan. Kemudian, di kelas-kelas berikutnya saya absen karena ada urusan keluarga. Trus bablas, trus kelas pun berhenti gara-gara covid19 melanda. Berbulan-bulan buku pelajaran berdebu di sudut rumah karena enggak pernah dibaca. πŸ˜€ πŸ˜€ Trus kelas dibuka kembali via zoom.

Jadi, sebagai solusi permasalahan saya, pas libur tanggal 20 Agustus kemarin saya baca ulang buku pelajaran dari awal. Semua ayat rujukan saya baca, dan saya menemukan kalimat ini di salah satu halamannya: Satu-satunya kemungkinan Anda gagal adalah karena Anda berhenti. Wow. I didn’t see that coming. Hahah.. πŸ˜€ πŸ˜€ Dan satu lagi: pelatihan ini akan sangat menarik dan menyenangkan, tetapi, seperti hal-hal bermanfaat lainnya dalam hidup, pelatihan ini juga berarti kerja keras. I couldn’t agree more. Semua perlu proses. πŸ˜€ πŸ˜€

**

Jadi apa tadi tuh pertanyaannya yang bikin mata saya tetap melek? πŸ˜€ Ini dia nih:

  1. Sebetulnya katekisasi sidi buat apa?
  2. Apakah sejak peneguhan sidi barulah anak mempertanggungjawabkan hidupnya, atau sejak lahir?
  3. Trus baptisan itu untuk apa?
  4. Jadi jika hidup kekal atau surga adalah anugerah dari Tuhan, kalo gitu enggak perlu berbuat baik, dong?

Mendengar pertanyaan-pertanyaan ini membuat saya bertanya-tanya dalam hati bahwasanya ada begitu banyak orang, yang bahkan udah berumur banyak (kayak saya), namun belum sepenuhnya memahami tentang fondasi atau dasar-dasar tentang siapa atau apa yang mereka percayai, kemudian tentang siapa diri mereka di dalam Kristus. Makanya inilah gunanya ikut kelas pelatihan pekabaran Injil. πŸ™‚ Hati saya pun tercerahkan mendengar jawaban dari pelatih kami. Disimak, ya:

Jadi ketika seorang anak lahir, ia mesti segera dibaptis di dalam nama Bapa, Putra, dan Roh Kudus. Tujuannya adalah supaya nama anak tersebut tertulis dalam buku kehidupan dan tercatat sebagai warga negara Surga. Kira-kira samalah kayak tujuan bikin akta lahir, yaitu sebagai bukti identitas kewarganegaraan yang sah.

Nah, ketika orang tua membawa anaknya dibaptis, orang tua juga mengemban tanggung jawab untuk hidup meneladani Yesus dan menunjukkannya dalam hidup kesehariannya; sehingga si anak, nantinya melalui teladan orangtuanya, akan dapat mengenal seperti apa Yesus atau Tuhan itu. Jadi, tanggung jawab orang tua bener-bener sangat besar, ya. Saya pernah menuliskannya dalam ‘Menjadi Orang Tua dan Mandok Hata’ bahwasanya pengaruh orang tua begitu dalam pada diri seorang anak.

Nah, kemudian, setelah si anak cukup umur, katakanlah sekitar usia 15-an, barulah si anak ikut katekisasi yang tujuannya adalah untuk mendewasakan anak tentang apa yang dipercayainya, dan siapa yang dipercayainya. Namun, yang harus diingat adalah, peran orang tua tetap menjadi yang terpenting dalam hal memperkenalkan tentang Tuhan, tentang iman, tentang apa yang dipercayai, tentang keselamatan, dlst. Jadi tanggung jawab utamanya terletak pada orang tua, bukan pada guru katekisasi, atau pendeta atau pastor. πŸ™‚

Jadi, sekali lagi, tanggung jawab orang tua bener-bener sangat besar, ya. Karena, nama seseorang bisa terhapus dari buku kehidupan jika ia tidak bertahan mengikut Yesus sampai akhir (Wahyu 3:5). Maka sebagai orang tua, mintalah pertolongan Tuhan dalam membesarkan anak-anak supaya selaras dengan-Nya. πŸ™‚

Untuk pertanyaan terakhir: jika hidup kekal atau surga adalah anugerah dari Tuhan, kalo gitu enggak perlu berbuat baik, dong? Perbuatan baik adalah sebagai tanda ucapan syukur kita kepada Tuhan karena telah diselamatkan (Efesus 2:8-10). πŸ™‚

**

Semoga tulisannya berguna ya. πŸ™‚ Btw, kalian ada ikut kelas apa nih di era pandemi ini? πŸ˜€