Berbagi Pengalaman Jemaat Gereja yang Positif Korona

Salah satu hal positif yang saya dapatkan dalam periode pandemi korona ini adalah, kita bisa nonton berulang-ulang acara yang terlewatkan melalui youtube. Jadi tadi malam saya nonton rekaman youtube acara gereja kami yang live beberapa malam lalu. Dalam acara tersebut, beberapa jemaat yang pernah positif korona dan sembuh diundang untuk menceritakan pengalaman mereka.

Jemaat yang pertama bercerita adalah seorang Bapak yang positif covid di masa-masa awal korona masuk Indonesia. Beliau sempat menangis menceritakan pengalamannya yang ditolak rumah sakit (RS) beberapa kali, padahal ia sudah merasa sangat sakit, terutama untuk bernafas. Dari semua jemaat yang sakit, beliau yang paling lama dirawat di RS; yakni selama dua bulan. Kemungkinan karena saat itu semua pihak masih diliputi ketidaktahuan tentang bagaimana menghadapi virus ini.

Jemaat yang kedua menuturkan pengalamannya adalah suami istri yang positif covid bersama keluarganya. Suaminya bercerita awalnya ia merasa seperti kena gangguan lambung disertai vertigo yang makin parah. Karena badan makin enggak enak, ia melakukan swab test dan hasilnya positif. Ia kemudian meminta semua anggota keluarganya dan orang-orang yang pernah berinteraksi dengan mereka untuk swab test. Hasilnya, istri dan anak-anak mereka positif, disertai orang dekat mereka. Jadi totalnya ada tujuh orang.

Mereka dirawat di RS dan istrinya yang duluan pulang ke rumah karena hasil swab test 5 hari kemudian dinyatakan negatif.

Menurut istrinya, dukungan keluarga itu sangat penting. Jadi awalnya mereka dirawat di kamar berbeda di RS. Istrinya kemudian meminta agar ia sekamar dengan suaminya yang saat itu kondisinya semakin down. Kondisi down akan membuat imunitas memburuk. Sang istri kemudian menghibur dan menyemangati suaminya dengan memutar lagu-lagu pujian bagi Tuhan, bernyanyi dengan suara kencang, dan menaikkan doa yang tiada putusnya.

Istrinya bercerita bahwa sampai sekarang mereka enggak tahu terpapar korona di mana, bagaimana, dan kapan. Sehari-hari mereka merasa sudah sangat menjaga kesehatan diri, rumah, dan sekitarnya. Namun tetap saja mereka ‘kecolongan’.

“Hati yang gembira adalah obat yang manjur,” itu ia sebutkan beberapa kali untuk tetap semangat dalam menghadapi korona. Kuasa Tuhan bekerja menyembuhkan mereka melalui obat, food suplemen, dokter, dll.

Walaupun virus tersebut masih berada dalam tubuh mereka, ia berpesan agar orang-orang tidak perlu takut jika berinteraksi dengan mereka; namun tetap lakukan protokol covid yang benar, jaga pikiran tetap positif, istirahat dan tidur cukup, serta asupan makanan yang baik.

Cerita terakhir datang dari seorang ibu yang ikut swab test massal yang diadakan BNPB bersama gereja. Dari 120 orang yang ditest, dua orang positif, termasuk dia. Dunia rasanya runtuh begitu ia terima hasil tersebut. Dia stres dan seakan tidak tahu mau ngapain. Dua minggu sebelum swab, dia mengalami kesulitan tidur. Jadi, saat itu kemungkinan virusnya sudah mulai menggerogoti tubuhnya.

Anak-anaknya berkata, “Mak, jangan kayak mau kiamat. Itu cuman virus. Jangan putus harapan. Ayo kita berdoa.” Setelah itu, ia dan keluarganya berdoa dan berembug dan sempat muncul keinginan untuk merahasiakan dari keluarga dan kawan-kawan bahwa ia positif covid. Tapi yah enggak mungkin rahasia lagi, karena swab test dilakukan secara terbuka di gereja.

Akhirnya, keluarga dan komunitasnya mengetahui bahwa ia kena virus dan, diluar dugaan, orang-orang menyemangatinya dan menolong ia sekeluarga. Ia sangat bersyukur untuk semua pertolongan, perhatian, dan kasih sayang yang diberikan oleh pihak RT, RW, komunitas arisan, komunitas paduan suara, dan lainnya.

**

Saya pernah menulis di blog ini tentang bagaimana kawan-kawan saya bertahan dan bagaimana mereka memaknai pandemi ini. Sekarang, setelah mendengar pengalaman mereka-mereka yang pernah ‘face to face’ dengan si virus, itu membuat saya makin berempati.

Kalo kita enggak pernah mengalami, kita enggak pernah tahu apa yang mereka rasakan dan hadapi. Selama ini saya bisa bicara sedikit mengenai kesehatan mental/jiwa karena saya pernah mengalaminya. Pengalaman adalah guru paling berharga. Mungkin memang betul bahwa cara penyembuhan yang digunakan seseorang belum tentu cocok bagi orang lain. Tapi, pasti ada benang merahnya. Bagi kesehatan mental sangat penting untuk bersyukur dan dapat menerima keadaan. Nah, dalam menghadapi korona, saya perhatikan yang paling penting adalah sistem imun yang baik. Imun yang baik tentu dimulai dari pikiran dan jiwa yang sehat.

Kita semua sama-sama menderita dan berada dalam badai yang sama sekarang ini. Namun, kapal kita berbeda. Kapal yang berbeda itu bisa jadi ketahanan tubuh, keadaan ekonomi, support system, dlst.

Kepada kalian semua yang saat ini sedang berjuang melawan virus korona atau yang lagi kurang sehat, saya meminjam kalimat dari suami saya, “…Kiranya Tuhan memberi kesembuhan dan memberkati semua obat, makanan, minuman, dan tangan-tangan dokter yang merawat. Pikiran optimis sehat dan dalam lindungan Tuhan, itu obat nomor 1; medical treatment nomor 2.” 🙂


2 thoughts on “Berbagi Pengalaman Jemaat Gereja yang Positif Korona

  1. Amin kak makasih postingannya.. Aku sendiri termasuk caregiver secara tidak langsung karena pacarku sekarang sedang dinas di salah satu balai kesehatan di Sukabumi, disana kurang pegawai administrasi makanya dibantu pacarku dan beberapa temannya.. Aku cuma bisa bantu lewat doa.. Sedih dan waswas tiap liat hasil test, aku cuma bisa nyemangati secara virtual walopun kadang down tapi dia gak boleh tau.. Pengen banget pandemi ini segera berakhir dan berharap dia selalu baik2 aja, tapi ada aja orang bikin ulah kelakuan aneh2 zzzz -___-

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s