Comparison – Part 2

Dalam Yohanes 21, Yesus yang telah bangkit bertanya tiga kali kepada Petrus, “Apakah engkau mengasihi Aku?” Petrus, yang hatinya terluka dan kemungkinan masih sangat terpukul karena menyangkal Yesus sebanyak tiga kali sebelum Yesus disalib, menjawab, “Tuhan, Tuhan tahu segala-galanya. Tuhan tahu saya mencintai Tuhan!” (ayat 17 BIS).

Kemudian Yesus memberitahu Petrus seperti apa harga cintanya tersebut, “Sungguh benar kata-Ku ini: Ketika engkau masih muda, engkau sendiri mengikat pinggangmu, dan pergi ke mana saja engkau mau. Tetapi kalau engkau sudah tua nanti, engkau mengulurkan tanganmu, dan orang lain yang mengikat engkau dan membawa engkau ke mana engkau tidak mau pergi.” Dengan kata-kata itu Yesus menunjukkan bagaimana Petrus akan mati nanti untuk mengagungkan Allah. Sesudah itu Yesus berkata kepada Petrus, “Ikutlah Aku!” – (Yohanes 21:18-19 BIS).

Alih-alih menerima ajakan Yesus ‘Ikutlah Aku’ dengan antusias, Petrus malah menoleh kepada Yohanes di belakangnya dan bertanya kepada Yesus, “Tuhan, bagaimana dengan dia ini?” (ayat 21). Petrus ingin tahu bahwa dia bukan satu-satunya murid yang menderita karena jalan hidup yang mengerikan. Namun Yesus menjawabnya dengan, “Andaikata Aku mau ia tinggal hidup sampai Aku datang kembali, itu bukan urusanmu. Tetapi engkau, ikutlah Aku!” (ayat 22).

Dalam percakapan singkat antara Yesus dan Petrus ini kita melihat jebakan yang sering terjadi di antara kita: membandingkan penderitaan kita dengan orang lain. Kita perlu menghindari jebakan semacam ini; karena kalo kita enggak menghindar, kita akan sampai pada kesimpulan bahwa penderitaan kita lebih parah dari orang lain dan itulah yang kita pikir satu-satunya tujuan Tuhan bagi kita. Pola pikir seperti ini dapat dipastikan akan membawa kita ke dalam sikap mengasihani diri sendiri (self-pity), dan self pity akan menghancurkan kita.

Rasul Paulus pernah menulis, “Setiap pencobaan yang Saudara alami adalah cobaan yang lazim dialami manusia…” (1 Korintus 10:13 BIS). Bahkan yang lebih luar biasanya lagi adalah fakta bahwa, “Imam Agung kita (yaitu Yesus) bukanlah imam yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita. Sebaliknya, Ia sudah dicobai dalam segala hal, sama seperti kita sendiri; hanya Ia tidak berbuat dosa” (Ibrani 4:15 BIS). Satu-satunya Manusia yang pernah mengalami penderitaan yang tidak dialami oleh orang lain adalah Yesus.

Ketika orang-orang Kristen terjebak dalam comparison, kita mungkin jadi lupa bahwa momen dimana kita menerima ajakan Yesus untuk menjadi murid-Nya, kita menyerahkan semua hak atas diri kita kepada Tuhan. Kita menyerahkan diri secara total kepada kehendak Tuhan kita, sebagaimana tertulis dalam Lukas 9:23: Orang yang mau mengikuti Aku, harus melupakan kepentingannya sendiri, memikul salibnya tiap-tiap hari, dan terus mengikuti Aku.

Paulus bilang begini, “Kalian harus tahu bahwa tubuhmu adalah tempat tinggal Roh Allah. Roh itu tinggal di dalam kalian. Dan Allah sendirilah yang memberikan Roh itu kepadamu. Diri Saudara bukan kepunyaanmu. Itu kepunyaan Allah. Allah sudah membeli kalian dan sudah membayarnya dengan lunas. Sebab itu, pakailah tubuhmu sedemikian rupa sehingga Allah dimuliakan” (1 Korintus 6:19-20 BIS). Singkatnya, Tuhanlah yang mengendalikan hidup kita.

Sekilas, menjadi pengikut Yesus (yaitu menyerahkan hak atas diri kita kepada Tuhan) mungkin akan nampak seperti perbudakan. Tentunya ada pengorbanan dalam mengikut Yesus. Namun, ketika kita benar-benar memahami pesan dari kabar baik tentang Yesus (Injil), kita akan melihat bahwa menjadi pengikut Yesus pada akhirnya akan membebaskan kita. 🙂

Maksudnya gini: inti dari comparison adalah pencarian akan harga diri. Ketika si empunya blog (EB) membandingkan hidupnya dengan adiknya dan merasa ‘gagal’, ia pikir bahwa jika ia dapet kerjaan bagus dan suami sempurna, ia akan membuktikan bahwa dirinya berharga. Namun, Injil membebaskan EB dari kezaliman comparison dan dari tekanan yang terus menerus untuk pembuktian diri, karena ia telah terjamin dan aman di dalam Yesus Kristus. 🙂 Sebagai murid Yesus, identitas EB bukan lagi bergantung pada hal-hal eksternal (misalnya seperti pekerjaan, rumah, uang, suami, anak, dlst); melainkan, ia telah, dan akan terus menjadi anak Tuhan dan menjadi pewaris bersama Kristus. 🙂

Nah, dalam identitas barunya ini, EB dengan rendah hati dapat “menganggap orang lain lebih baik dari diri sendiri” (Filipi 2:3 BIS), dan dapat “bergembira dengan orang yang bergembira” (Roma 12:15 BIS), sekalipun ia sedang berada dalam penderitaan. 🙂

Dengan senang hati EB dapat menerima hal-hal yang diizinkan Tuhan terjadi dalam hidupnya, karena ia kini mengetahui bahwa Kasih yang Sempurna mengisi hari-harinya yang tertulis di dalam buku Tuhan, bahkan sebelum satu pun dimulai (Mazmur 139:16 BIS). Dan dengan itu, EB kini yakin bahwa apa yang diberikan Tuhan kepadanya (dan apa yang tidak diberikan Tuhan kepadanya) pada akhirnya adalah untuk kebaikannya sendiri. 🙂 Seperti kata Elisabeth Elliot, “If God has done something, it is good. End of story.” 🙂

**

Sekianlah sedikit cerita tentang comparison yang saya sadur dari blognya Emily Ellis – believingatmidnight.com. She’s an avid fan of Elisabeth Elliot. Dalam blognya, Emily cukup sering bercerita tentang suffering dan tentang Elisabeth Elliot.

Well, semoga postingannya berguna dan bisa memberi pencerahan, ya! Thanks for reading! 🙂

Comparison – part 1 silakan dibaca di sini.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s