Tentang Hati

Selama hidup di dunia, perbuatan-perbuatan yang dilakukan Yesus seringkali mengubah tradisi. Yang biasanya dalam adat istiadat Yahudi enggak boleh bekerja di hari Sabat, nah, Yesus justru sering bekerja menyembuhkan orang-orang di hari Sabat (Yohanes 9:1-41 BIS). Murid-murid Yesus pun bukan cuma laki-laki, namun ada juga perempuan. Yesus bahkan berbicara kepada perempuan Samaria yang seharusnya tak boleh berinteraksi dengan orang Yahudi (Yohanes 4:1-42 BIS). Jadi, kenapa atau apa yang membuat Yesus melakukan hal tersebut?

Setelah saya pelajari sedikit tentang kehidupan Yesus dan apa yang paling penting bagi-Nya, ternyata intinya adalah: sikap hati, niat, motif. Begitu banyak motivasi atau yang melatarbelakangi seseorang melakukan sesuatu. Nah, yang memotivasi Yesus melakukan berbagai kegiatan dalam hidupNya adalah karena Ia berbelas kasih dan peduli kepada orang-orang yang pada zaman itu hidup dalam kebobrokan moral (Matius 9:35-36; Matius 14:14 BIS).

Sedangkan orang-orang yang menghakimi Yesus, yang biasanya guru-guru agama berilmu tinggi, motivasi mereka biasanya adalah karena kebencian, ketidaktulusan, dlst. Yang mereka pedulikan hanya diri mereka dan bagaimana mengambil keuntungan dari orang-orang. Jadi pada dasarnya mereka enggak peduli dengan keadaan orang-orang di sekitar mereka. Dari luar mereka nampaknya relijius, doing the religious things, saying the religious words, berpakaian relijius, tapi sebetulnya hati mereka jauh dari Tuhan.

Era Perjanjian Lama
Jauh sebelum Yesus mengecam guru-guru agama berilmu tinggi di era Perjanjian Baru (Matius 23:1-36 BIS), Tuhan pernah mengingatkan dalam era Perjanjian Lama bahwa IA tidak senang jika kita hanya menyembah-Nya dengan kata-kata, tetapi hati kita jauh dari-Nya, dan ibadah kita hanyalah peraturan manusia yang dihafalkan (Yesaya 29:13 BIS).

Tuhan juga berkata bahwa IA benci dan muak melihat perayaan-perayaan agama, dan tak mau menerima kurban persembahan, dan meminta agar menghentikan nyanyian-nyanyian yang membisingkan, karena orang Israel saat itu menindas orang baik, menerima sogok, membiarkan orang miskin diperlakukan tidak adil; pendek kata, kehidupan keseharian mereka sangat jahat (Amos 5:10-13, 21-23 BIS).

Tuhan juga menegur para imam karena mereka mempersembahkan hewan yang sakit, hewan yang lumpuh, hewan curian, dlst. Intinya, mereka tidak memberikan yang terbaik bagi Tuhan (Maleakhi 1:6-14 BIS). Para imam saat itu bahkan sudah menyimpang dari jalan yang benar dan ajaran-ajaran mereka menyeret banyak orang berbuat salah (Maleakhi 2:8-9 BIS).

Jadi Tuhan tidak senang karena yang mereka lakukan hanya sebatas legalisme belaka. Yaitu: taat kepada sederet aturan tentang apa yang boleh dan apa yang tidak boleh, tetapi, dalam lubuk hatinya terdalam, mereka tidak menyerahkan diri kepada Tuhan; dan itu tampak dari perbuatan mereka yang mempersembahkan hewan-hewan sakit, lumpuh, dan hewan curian tadi. Tentu Tuhan tidak mau menerima persembahan seperti itu.

Yang Tuhan inginkan adalah:
1. agar kita mengusahakan keadilan dan kejujuran (Amos 5:24 BIS);
2. kemudian kita menghormati-Nya dengan perbuatan (Maleakhi 2:2a BIS);
3. dan berusaha mencintai yang baik, menegakkan keadilan, dan membenci kejahatan, supaya kita hidup dan supaya Tuhan sungguh-sungguh tinggal bersama kita (Amos 5:14-15 BIS).

Pola yang Sama
Kalau dilihat lebih jauh lagi, polanya selalu sama: Tuhan selalu melihat hati kita apakah mengusahakan kebaikan atau sebaliknya. Dalam dunia mula-mula, persembahan Habel diterima Tuhan, sedangkan Kain ditolak. Kenapa? Karena Habel mempersembahkan bagian yang paling baik kepada Tuhan (Kejadian 4:4 BIS). Dan Kain, kemungkinan besar kondisi hatinya ketika memberikan persembahan adalah, “ya udahlah yang penting saya beri persembahan, apa bedanya, sih?” Jadi, intinya, Habel hormat kepada Tuhan, dan Kain tidak. Kalau kita menghormati Tuhan, kita pasti akan mengusahakan kebaikan dan memikirkan cara-cara terbaik, bukan sebaliknya.

Dalam kisah Raja Daud, yang mengambil istri orang lain dan melakukan pembunuhan berencana kepada suami perempuan tersebut, kita belajar bahwa Tuhan tidak senang dengan perbuatan Daud karena di mata Tuhan hal itu merupakan kejahatan. Kejahatan merupakan hinaan kepada Tuhan (2 Samuel 11:1-27; 2 Samuel 12:1-15 BIS).

Kemudian, dalam kisah Ester kita belajar bahwa Haman, yang merencanakan genosida bagi semua orang Yahudi di kerajaan Persia, nasib hidupnya akhirnya berbalik. Justru Haman yang dihukum mati karena akhirnya ketahuan merencanakan kejahatan (Ester 1-10 BIS).

Masih banyak lagi contoh lainnya yang konsisten ditunjukkan Alkitab bahwa Tuhan senang jika kita rendah hati, menyesali dosa-dosa kita, serta menghormati Tuhan (Yesaya 66:2 BIS). Sebaliknya, Tuhan sangat tidak senang jika kita: sombong, menyembah bintang-bintang, melakukan praktek kedukunan/kenujuman/ilmu gaib, dan meminta petunjuk kepada roh-roh, seperti yang dilakukan Raja Manasye (2 Raja-raja 21:1-16 BIS).

Hidup dari Hati
Kita hidup dari hati, dan kita hidup konsisten dengan keyakinan-keyakinan yang dipercayai hati kita, sebagaimana dikatakan dalam Amsal 23:7 MILT, “Seperti orang yang berpikir dalam hatinya, demikianlah ia.”

Hati adalah sumber keinginan dan keputusan. Hati adalah tempat dimana jiwa yang diberikan Tuhan bersemayam. Dari hati terpancar kehidupan (Amsal 4:23), yaitu hal-hal yang kita hasilkan dalam kehidupan kita.

Hati yang ragu dapat menimbulkan kebisuan, seperti yang dialami Zakharia, ayah dari Yohanes Pembaptis. Sementara hati yang sungguh percaya akan memperoleh yang dijanjikan Tuhan seperti Maria ibu Yesus.

Dalam salah satu kelas penelaahan Alkitab yang pernah saya ikuti, seorang peserta bertanya tentang pemberian hadiah oleh orang tua murid kepada guru di sekolah anaknya pada saat pembagian rapor. Jadi ia bertanya apakah pemberian hadiah tersebut adalah gratifikasi atau tidak. Jawaban yang diberikan oleh pembimbing kami, menarik. Jadi semua kembali lagi kepada niat, sikap hati atau apa motifnya dalam pemberian hadiah tadi. Jika tujuan pemberian hadiah adalah untuk melicinkan hal-hal yang jahat, atau untuk menekan atau menindas orang, atau untuk melicinkan seseorang memperoleh nilai ujian, tentu itu harus ditolak. Tetapi jika pemberian hadiah adalah sebagai tanda terima kasih atau rasa syukur dari orang tua karena anaknya telah melewati masa sekolah dalam setahun, ya boleh saja.

Oleh karenanya, hati kita dan apa yang ada di dalamnya menentukan hal seperti apa yang kita hasilkan; dan ini akan dapat terlihat dalam kehidupan kita sehari-hari. Karenanya, jagalah hati kita agar senantiasa selaras dengan keinginan Tuhan, sebagaimana dinasehati dalam Amsal 4:23 BIS, “Jagalah hatimu baik-baik, sebab hatimu menentukan jalan hidupmu.”


One thought on “Tentang Hati

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s