(ingin) Jalan-jalan Liburan

Sejak akhir tahun kemaren hingga selepas tahun baru 2021, saya sempat merasa sangat ingin jalan-jalan, berlibur dari rutinitas. Saya memikir-mikirkan betapa enaknya jika dapat berlibur di suatu tempat yang hijau, mungkin yang ada kolamnya, lalu bisa libur memasak dan libur dari tugas harian; maybe for a couple of days, or maybe two weeks, or maybe more.. Haha.. ๐Ÿ˜€

Semakin saya pikirin, saya semakin menginginkannya. Memang begitulah Tuhan menciptakan kita. ๐Ÿ˜€ Makanya berhati-hatilah dengan apa yang kita pikirkan dan apa yang kita inginkan. ๐Ÿ˜€

**

Jadi saya merasa jenuh; yang mana situasinya mirip dengan kesuntukan yang saya alami di bulan Juli yang akhirnya membawa saya ke Cibodas.

Kami akhirnya pergi ke mall dekat rumah, dan terhibur dengan suasana hijaunya dan ada kolam ikannya! ๐Ÿ˜€ Namun saya merasa belum cukup.ย 

Kemudian satu hari saya melihat iklan adik saya, dimana ia berusaha memasarkan jahe produksi perkebunan mereka. Saya terharu melihatnya. Situasi kami sangat kontras. Di satu sisi saya sangat ingin berlibur lepas dari kegiatan keseharian, dan di sisi satunya lagi adik saya berjibaku memasarkan produknya.

Hal tersebut menjadi semacam ‘a wake up call’ buat saya. Saya lalu bilang ke diri sendiri, โ€œAyo sadar, bangkitlah. Bekerjalah buat Tuhan, lawan godaan, dan ucapkan syukur kepada Tuhan.โ€

Kita manusia emang mudah sekali terjatuh ke dalam rasa jenuh, lelah, dan bosan, kan? Tapi, tangan Tuhan selalu memegang dan kita ditarik-Nya kembali mendekat.

Satu pagi saya terbangun dan, Tuhan menuntun perhatianku ke satu renungan yang pernah terbit di tahun 2018. Renungannya mengingatkan saya agar mengamat-amati Yesus. Maksudnya gimana tuh? ๐Ÿ˜€ Jadi maksudnya adalah: renungkanlah tentang Yesus berulang kali, terus menerus.

Saya pun membaca-baca tentang kehidupan Yesus di Alkitab dan membaca jurnal harian saya yang lama, hingga membaca jurnal di masa sekarang. Lembar demi lembar saya baca dan saya melihat begitu banyak perubahan terjadi dalam perjalanan hidup yang telah saya lalui bersama Yesus.

Perlahan, keinginan jalan-jalan pun memudar dan rasanya memang tak pantas memiliki keinginan berjalan-jalan di era pandemi seperti sekarang ini, kan?

Well, jalan-jalan ke pantai, ke gunung, atau ke taman sesekali boleh saja, asalkan tidak sepanjang waktu. Karena mendekam di rumah terus pun tidak sehat juga. Yang penting tetap jaga jarak, jauhi kerumunan, pakai masker, jaga kesehatan, dan berdoa.

Saya pun membaca tentang sudut pandang Martin Luther (tokoh reformasi gereja), tentang wabah hitam atau bubonic plague yang pernah terjadi di Jerman tempat dia bekerja di abad ke-16. Martin kira-kira bilang begini, โ€œAnggaplah wabah ini seperti kebakaran yang terjadi di kota tempat tinggalmu. Apakah kamu akan pergi jalan-jalan atau membantu memadamkannya?โ€ Orang yang pikirannya sehat dan waras tentu akan memilih untuk membantu memadamkannya, ya?

Saya pun mengucap syukur untuk kesehatan, dan untuk semua kebaikan yang masih Tuhan berikan kepada kami. Kemudian saya kembali melakukan berbagai tanggung jawab sesuai kesanggupan yang Tuhan berikan, then i say goodbye to jalan-jalan! ๐Ÿ˜‰

Sebetulnya, saya udah pernah tulis yang mirip gini dalam Memaknai Coronaย yakni tentang bagaimana respon dan langkah kita menghadapi berbagai isu. Tapi, manusia emang suka lupa pada kebaikan-kebaikan yang pernah terjadi, dan suka lupa pada apa yang dimilikinya; sehingga kadang-kadang suka mencari yang tidak ada. ๐Ÿ˜€ Nah, saat itulah pencobaan datang. Jadi supaya enggak dicobai, tengkinglah segera saat godaan datang! ๐Ÿ˜€ Sebagaimana dikatakan dalam Yakobus 1:14, โ€œTetapi tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya.โ€

**

So, how’s your 2021 so far?

3 comments

  1. Bagus blog nya. Semoga covid 19 cepat hilang. kita bisa kembali bekerja seperti biasanya.
    Salam dari Bali. semoga semua dalam lindungan tuhan.

    Salah hangat

    Gede,Mr
    http://www.inclusivebalitour.com

    Like

    1. Terima kasih sudah berkunjung Mr Gede ๐Ÿ™ salam sehat

      Like

  2. […] Dari pengalaman hidup saya belajar bahwa jika kegiatan kita semata untuk menyenangkan diri sendiri, bisa dipastikan kita akan jatuh dalam siklus yang sama. We satisfy for sesaat, but then enggak pake lama, kita akan cari lagi untuk memenuhi rasa lapar / haus akan kesenangan-kesenangan tersebut. Seperti yang saya alami kemarin, dimana saya nyaris membiarkan diri dininabobokkan keinginan untuk jalan-jalan liburan for a couple of days or mo…. […]

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: