Dealing with young people

Sewaktu masih kecil, saya pernah rutin membaca renungan Alkitab dengan orang dewasa di keluarga kami. Namun, setelah semakin banyak masalah muncul, saya menjadi tidak memercayainya karena sikapnya tidak mencerminkan renungan-renungan yang kami baca.

Dalam pikiran saya yang masih muda kala itu, kalau orang rajin baca renungan Alkitab, mestinya hidupnya menabur kebaikan dan lebih berempati; bukan menabur perpecahan dan bikin berantem. Jadi, karena yang saya lihat dalam hidupnya adalah kebalikan dari menabur kebaikan, bagaimana mungkin saya dapat memercayainya?

Nah, dikarenakan masalah yang muncul silih berganti selama kami tinggal dalam satu atap, saya menjadi kecewa dan pahit.

Of course i was shallow at that time. Waktu itu, saya belum menyadari dan belum mengetahui bahwa kehidupan manusia itu sangat kompleks dan complicated. We can’t just judge people from the outside, atau menilai seseorang dari apa yang -kita lihat- mereka lakukan. Karena, dalam hidup ini segala sesuatu memang ada prosesnya.

Seperti anak kecil yang kalo makan tentu awalnya disuapin dulu, enggak bisa langsung ambil makanan sendiri. Kemudian ortunya ngajarin gimana caranya makan sendiri. Dari situ, mereka kemudian belajar untuk makan pake tangan sendiri. So, i think, dinamika kehidupan lebih kurang ya kayak gitu. 🙂

**

Sekarang, saya juga ada bible reading partner yang juga masih muda. So this is like my life when i was in my younger age. 🙂 And of course, dalam perjalanan pertobatan ini saya masih marah-marah dan dia melihat perilaku saya yang marah-marah tersebut. Namun, karena kebaikan Tuhan, sekarang saya cepat sadar (enggak kayak dulu marah bertahun-tahun 😀 ), sehingga saya dapat cepat minta maaf kepadanya karena saya juga ingin agar dia belajar memaafkan.

Dalam pengalaman hidup menuju 40 tahun ini (tadinya saya enggak mau bilang gini lagi; tapi emang semua yang saya tulis di sini based on my experience haha 😀 😀 ), saya belajar bahwa kekecewaan akan mudah membawa kita jauh dari Tuhan dan membuat kita merasa enggak ada gunanya berbuat baik.

It is true that sometimes life can be very frustrating. The struggles are real. Every single day kita diperhadapkan pada pilihan-pilihan apakah mau ikut caranya Yesus (antara lain saling sabar dan berbudi, mempunyai ketenangan hati, sanggup menguasai diri) atau ikut tabiat manusia (yaitu: perbuatan-perbuatan yang cabul, kotor dan tidak pantas, penyembahan berhala, keserakahan, ilmu guna-guna, bermusuh-musuhan, berkelahi, benci, cemburu, lekas marah, mementingkan diri sendiri, perkataan kotor, berbohong, perpecahan dan berpihak-pihak, iri hati, bermabuk-mabukan, berpesta pora, dlst).

That’s why it is important to explain to young people about our struggles (instead of just silent and said nothing about it), and explain why we mad, and we quickly repent so that they would have a better understanding and they didn’t stop there (i mean, watching us mad and disappointed with life and with God), but continually seeking God dan bertumbuh berakar di dalam Tuhan, serta menghasilkan kehidupan yang sesuai nilai-nilai Yesus. Dan semua itu tentunya mesti dimulai dari kita yang memberi contoh hidup bagi mereka. 🙂

 

Ada yang punya pengalaman yang sama juga mengenai dealing with young people? 🙂

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: