A Praying Life

Beberapa bulan lalu saya patah hati. Tapi walaupun udah tau bahwa masalah-masalah akan terus muncul dalam perjalanan hidup, ya tetep aja rasa sedih, marah dan kecewa, muncul.

Saya berhenti ngeblog and wrote a lot on my daily journal. Kayaknya saya kena depresi ringan juga, karena saya males ketemu orang waktu itu. And i was crying a lot. Tapi, Tuhan semacam ‘memaksa’ saya untuk tetap terhubung dengan manusia lainnya. Karena, ada saja orang-orang yang menyapa dan bertanya ini-itu dan mengharuskan saya berkomunikasi dengan mereka. Jadi, dari situ saya ngerti bahwa, “Oh, baiklah. Berarti Tuhan ingin agar saya tidak menutup diri.”

Jadi, walaupun enggan ketemu orang (sekalipun cuma via zoom meeting atau teleponan), tetap saya lakonin juga dengan meminta pertolongan Tuhan. Karena, sungguh, kalau mau mengandalkan kekuatan saya sendiri, saya sudah pasti akan menolak berjumpa dengan manusia-manusia tersebut. 

Saya juga mencari pelampiasan dengan makan es krim, dan mengajukan banyak pertanyaan kepada Tuhan. “Apakah doa saya selama ini keliru, Tuhan?” begitulah salah satunya saya tanyakan. Karenanya, saya ingin lebih dalam belajar tentang doa; karena jangan-jangan selama ini doa saya hanyalah bertujuan menyenangkan ego semata… 

**

Kemudian, entah bagaimana, saya dipertemukan dengan satu buku berjudul ‘A Praying Life’ yang ditulis oleh Paul E. Miller. Saya merasa terhubung dengannya karena memiliki kisah hidup yang agak mirip. 

Dalam bukunya, Paul bercerita bahwa ia dan istrinya berdoa supaya Tuhan menjaga anak mereka yang akan lahir nantinya. Namun pada kenyataan, sewaktu istrinya bersalin, dokter mereka abai. Dari situ, pergumulan panjang mereka pun dimulai. 

Selama ini saya pun berdoa supaya Tuhan kiranya melancarkan semua rencana keluarga kami ke depannya. Namun, satu hari tiba-tiba hal itu direnggut dari hadapan kami. Left me wondering… “Why….?”

Seakan menjawab pertanyaan saya, dalam halaman 184, Paul menulis, Saat mengalami penderitaan yang tidak mau pergi atau bahkan sebuah masalah kecil saja, secara naluri kita langsung fokus pada apa yang salah, seperti jubah yang hilang dan pengkhianatan dalam kisah Yusuf; bukan kepada Tangan Sang Guru. Seringkali saat kita berpikir segalanya salah, itu hanya karena kita masih berada di tengah-tengah cerita. Jika kita mengamati kisah yang sedang Allah kerjakan dalam hidup kita, kita akan mulai melihat polanya dan kita akan peka terhadap suara Allah…”

Seperti apa polanya? 

I remember about satu kisah yang sarat dengan penderitaan di Alkitab. Kisah Ayub. Orang bilang, penderitaan Ayub adalah penderitaan tingkat ‘dewa’. Bagaimana tidak? Dalam sekejap ia kehilangan hewan ternak, anak-anak, harta kekayaan, kesehatan yang memburuk, serta istrinya pun menyuruh dia meninggalkan Tuhan. Belakangan, para sahabat yang seharusnya menghiburnya malah menuduh Ayub telah bersalah kepada Tuhan. 

Ayub yakin dirinya tidak bersalah, dan mengajukan banyak pertanyaan kepada Tuhan. Lantas apa yang dia dapat? 

Di akhir kisah, Ayub tidak pernah mendapat jawaban atas pertanyaan-pertanyaannya, namun ia memperoleh hal terbaik yang pernah ia dapatkan dalam hidup; yakni berjumpa langsung dengan Pencipta semesta yang luar biasa ini, yang selama ini hanya ia dengar dari cerita-cerita orang. 🙂

Ayub yang kagum dan merasa sangat kecil di hadapan Tuhan akhirnya merendahkan diri dan meminta maaf. Tuhan kemudian memulihkan hidup Ayub dan mengembalikan berlipat ganda dari hal-hal yang pernah hilang dalam hidupnya. 🙂

Jadi Tuhan ingin mengajarkan Ayub hal penting ini dalam hidupnya, yaitu: percayalah kepada pengaturan Tuhan dan percayalah pada Hikmat-Nyawalaupun dalam prosesnya ia menderita, namun semua itu bertujuan agar imannya bertumbuh dan berakar di dalam Tuhan.

Itulah polanya. Kesulitan atau penderitaan merupakan bagian penting dari proses menjadi orang seperti yang Allah kehendaki. 🙂

**

The more i read the book, the more saya ngerti bahwa melalui kejadian yang tidak enak ini, Tuhan memang mau mengajar saya untuk semakin mengenal-Nya, semakin bergantung penuh pada-Nya, semakin beriman kepada-Nya, dan belajar berdoa. 

Setelah membaca tulisan Paul dalam buku ini, saya semakin disadarkan bahwa arti berdoa ternyata sangat kaya. Berdoa bukan cuma supaya semua keinginan kita tercapai. Tapi, berdoa adalah menyerahkan kehendak kita kepada Tuhan dan belajar menerima pengaturan-Nya atas hidup kita. Itulah kehidupan yang berdoa. 🙂 

Dalam satu chapter, Paul berkisah tentang seorang suami yang lupa membuang sampah dan membuat istrinya sebal. Yang tidak terlintas dalam pikiran istrinya adalah, mungkin Tuhan memang mau supaya si istri membuang sampah seumur hidupnya. 🙂 🙂 Yesus juga sepanjang tahun membuang ‘sampah-sampah’ kita setiap hari. 🙂 🙂

Masalah lupa membuang sampah kemungkinan besar hanyalah puncak gunung es dalam hidup si suami. Mungkin ia punya masalah yang lebih besar dalam kehendak diri, kemalasan, atau keegoisan. Maka sebagai solusi, si istri mengucapkan lebih sedikit perkataan kepada si suami dan memperbanyak bicara kepada Tuhan (berdoa), mengoreksi hatinya, serta memperdalam pertobatannya sendiri, dan menemukan Yesus di sisi lain dari tong sampah. 🙂 🙂

Yesus tidak meminta kita untuk meneropong hidup orang lain udah gimana, udah lakukan apa, udah ngapain aja, dlst. Melainkan kita sendirilah yang harus meneropong hidup kita, dan berusaha menjadi lebih baik dengan pertolongan Yesus setiap harinya.

Sekarang saya udah belajar menerima yang terjadi, and move on to the next chapter of my life. 🙂

2 comments

  1. Sending you hugs, semoga kita selalu dijauhkan dari depresi dan senantiasa sehat ya. ❤️

    Liked by 1 person

    1. Terima kasih mbak Ailsa. Tetap jaga kesehatan ya 🙂

      Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: