Melawan Covid

Kira-kira dua minggu yang lalu saya merasa tak enak badan. Kemudian disusul demam, tenggorokan mulai sakit, batuk, hingga kepala terasa berat. Untuk memastikan apakah ini cuman flu biasa atau bukan, saya kemudian swab pcr. Hari berikutnya hasilnya muncul. Positif covid dengan nilai CT sebesar 27. Dari infografis yang saya baca tentang seputar nilai CT, angka 27 katanya masuk di zona penyembuhan. Jadi saya optimis pasti sembuh.

Yang tidak saya ketahui adalah, proses menuju kesembuhan itu ternyata mesti melewati cobaan yang banyak. Dimulai dari.. tenggorokan yang semakin meradang, yang membuat semakin susah makan dan minum. Intinya, saya jadi takut menelan apa pun saking sakitnya. Padahal kan mesti makan supaya imun tetap kuat, dan mesti minum obat sama vitamin untuk menghalau virusnya. Saya isoman di rumah, btw. 

Cobaan berikutnya adalah, muncul rasa mual bahkan hingga muntah beberapa kali. Jadi setelah makan minum tersiksa, muncul pula rasa mual. Saya coba berbagai macam cara untuk berusaha menahan makanan dan obat yang saya konsumsi. Karena sayang banget kalau dimuntahkan setelah susah payah berjuang menahannya untuk tetap di dalam tubuh. 

Salah satu cara mengatasi mual saya dapat solusinya dari ponakan yang baru sembuh dari covid. Caranya yaitu dengan menghirup uap air panas. Jadi tiap kali mual, saya langsung hirup uap air panas dari steamer. Cara kedua adalah dengan minum madu. Kedua cara ini lumayan jitu meredam rasa mualnya.

Cobaan selanjutnya adalah rasanya ingin tidur terus. Jadi rupanya si covid ini memang menyuruh orang untuk tidur terus supaya sarafnya diam. Jadi suami saya mengajari teknik akupuntur agar saraf di dada tetap bangun, serta teknik terapi pernafasan supaya saturasi oksigen tetap di level baik. Kedua hal ini sangat penting. Saya yakin kedua hal inilah yang membuat saya bisa tetap bernafas secara alami hingga sekarang, ditambah dengan sering menghirup uap air panas seperti yang saya jelasin tadi.

Ada kalanya saya udah capek banget dengan semua siklus yang mesti dilakukan (makan, minum obat, mual, hirup uap), dan memilih tidur saking sakitnya. β€œTuhan, saya capek banget, mau tidur dulu..” saya bilang gitu dalam doa-doa pendek saya. Bisa tidur 3-4 jam dalam sehari itu udah lumayan banget di hari-hari awal sakit. 

Di waktu lainnya, saya berdoa supaya obat-obatan dan makanan bisa masuk dengan baik ke dalam tubuh, saking sakitnya rasanya perjuangan untuk bisa menelan. 

Di hari kelima setelah konfirm covid, akhirnya saya dirawat di rumah sakit (RS) di daerah Jakarta Timur, karena merasa tidak sanggup lagi menelan obat-obatan dan vitamin secara oral. Bawaannya makin mual dan ingin muntah melulu. Makanan pun sangat sedikit bisa masuk. Untunglah masih ada RS yang bisa menampung. Sekamar isinya berempat perempuan semua. Tapi saya ikhlas saja, karena yang penting sembuh. 

Begitu tiba di RS, perawat dan dokternya cepat tanggap. Setelah dicek ina-inu, saya kemudian diinjeksi obat anti mual. Dari situ, selama beberapa hari berikutnya saya merasa semakin enak makan dan minum. πŸ™‚ Oiya, dari pemeriksaan darah, rupanya saya ada tipus juga. Itu yang membuat mualnya makin menjadi-jadi. πŸ˜€ Tapi semua teratasi oleh tangan-tangan perawat dan dokter yang cekatan. πŸ™‚ 

Kepada keluarga dan teman-teman saya minta tolong didoakan agar kuat menjalani semua prosesnya hingga pulih total. 

Hari ketiga di RS, salah satu teman sekamar meninggal dunia. Beliau covid plus demam berdarah. Sempat sedih juga saya. Bagaimana tidak, saya menyaksikan perjuangannya melawan kedua penyakit itu. Tapi enggak boleh terlalu lama bersedih, karena imun bisa turun lagi dan akibatnya bisa memburuk. Jadi saya tenangkan diri dan pasrah kepada Tuhan. Tidak seorang pun ingin mati. Kalau boleh hidup sehat selamanya. But that’s not here on earth. 

Hari keempat di RS, saya pulang ke rumah. Dokter bilang, karena keadaan saya semakin membaik, saya mesti pulang agar tidak berbaur lagi dengan pasien-pasien baru nantinya. Sebelum pulang saya swab pcr lagi. Bisa dipastikan hasilnya masih positif dong. Tapi enggak apa-apa, semua ada prosesnya. Ada yang setelah 2-3 minggu barulah sembuh total dan dinyatakan negatif. Jadi memang mesti sabar melawan covid ini. πŸ™‚

Semoga kalian sehat semua ya kawans. Tetap semangat dan ceria!

13 thoughts on “Melawan Covid

  1. Cepat sehat lagi ya, terimakasih udah sharing πŸ™‚
    Salam dari sesama alumnus covid:D

    Like

    1. Halo mbak Tesya, thanks ya buat doanya πŸ˜„ seneng ada temen penyintas covid juga hahaa.. tetap semangat mbak 😊

      Like

    1. Kita memang berdoa supaya dijauhkan dari marabahaya ya.. tapi kalau pun suatu saat terpapar juga, kita minta pertolongan dari Tuhan ya mas Danan, supaya diberi kesembuhan dan kekuatan.. terima kasih mas Danan 😊

      Like

  2. Semoga lekas pulih ya. Btw CT value itu bukannya cm menentukan jumlah virus di dalam badan ya. Kalau di sequence dibawah 29 kali dah ketemu virus berarti positif dan virusnya ada banyak, kalau di sequence diatas 40 kali ga ketemu virus berarti negatif. Sepertinya tidak ada hubungan dengan tingkat keparahan, nilai CT cuman digunakan untuk identifikasi saja

    Like

    1. Terima kasih mbak Eva.. betul, ct value cuma utk identifikasi. Jadi semakin besar angka pada ct value, maka semakin sedikit konsentrasi virus pada sampel tubuh pasien. Cuman, dalam infografis yang beredar disini dikasitau gini: 0-11 hasil lab invalid, 12-20 banyak virus, 21-30 fase penyembuhan, 31-40 sembuh.

      Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s