Renungan covid

Terpapar covid baru-baru ini membuat saya merenungkan beberapa hal.. here they are:

Kebersamaan adalah barang mewah

Apalagi pas isoman selama tiga mingguan.. Dan saya nyaris lupa nama-nama hari karena kayaknya semua hari jadi sama.

Out of the box

Setelah saya mulai pulih, salah satu anggota keluarga kami malah kurang enak badan setelah menerima vaksin kedua. Untuk memastikan apakah karena efek vaksin atau tidak, dan demi keamanan bersama, anggota keluarga kami ini mesti ‘isoman’ setelah PCR. Jadinya saya mesti kerja di rumah dan mesti pinter atur waktu.

Selama tiga hari nungguin hasil PCR, saya mondar-mandir di rumah beberes, masak, dlst. Mana saya pun baru sembuh, kerja mesti pelan-pelan karena pasca covid ini tubuh masih mudah lelah. 

Dari sini saya semakin melihat bahwa Tuhan itu selalu bekerja out of the box, diluar yang dapat manusia pikirkan. Tuhan seringkali membuat manusia keluar dari zona nyamannya dengan tujuan untuk kebaikan kita sendiri. Mungkin dengan mondar-mandir, paru-paru saya makin giat bekerja setelah sekian lama berkurung di kamar. And it works.

Imanmu telah menyelamatkan engkau

Saya suka dengan beberapa cerita ketika Yesus menyembuhkan orang IA berkata: “imanmu telah menyembuhkan engkau,” seraya mereka menerima kesembuhan yang mereka cari.

Kepada seorang perempuan yang anaknya kerasukan roh jahat; kepada kepala perwira Roma yang anggotanya sakit; lalu kepada perempuan yang telah 12 tahun sakit pendarahan, dlst. Mereka semua telah mendengar keajaiban yang Yesus lakukan kepada orang-orang, dan mereka percaya kepada Yesus. Kepercayaan mereka begitu kuat sehingga mereka menerima kesembuhan yang mereka cari.

Tiang awan tiang api

Walaupun keadaan masih pakai masker, jaga jarak, cuci tangan, jauhi kerumunan, dlst, namun kita masih bisa makan, masih diberi hidup, masih bisa lakukan kegiatan sehari-hari walau metodenya sekarang agak berbeda dari era sebelum covid. Seperti waktu orang Israel di padang gurun, Tuhan hadir dalam tiang awan dan tiang api. Mereka diberi makan, diberi air, lautan dibelah agar dapat diseberangi, dlst.

Jadi, jika situasi kita sekarang ini seperti situasi sewaktu orang Israel di padang gurun, Tuhan ada di sini. Ia sendiri mengatakan itu, Imanuel: Tuhan beserta kita. Itulah yang mesti kita ingat. Matahari diberikan untuk semua orang tanpa kecuali. Tuhan masih menyertai dan memelihara hidup kita. 

Contoh paling mencolok nampak sewaktu saya sakit kemarin. Keluarga, tetangga, teman-teman, every single one of them is showing God’s love. Mereka kirim makanan, bertanya kabar, mendoakan, menyemangati, kirim lagu, bahkan anaknya ponakan saya yang masih kecil mengirim hasil gambarnya serta kata-kata penyemangat dalam kertas yang ditulis warna warni yang membuat saya terharu. Imanuel.

Tidak lebih baik dari yang lain

I don’t know when this covid will truly disappear. Apakah suatu hari nanti kita akan bisa hidup tanpa masker lagi? Bisa pergi naik pesawat tanpa menunjukkan hasil test PCR atau antigen? I don’t know. But i think that’s not the main issue.

Virus ini menyerang segala. Tujuannya membinasakan. Bukan hanya membinasakan tubuh, namun juga membinasakan komunitas. I remember Jesus once said: pencuri datang untuk membunuh dan membinasakan, namun IA datang untuk memberi hidup dan kelimpahannya. 

Ada satu waktu dimana orang-orang datang kepada Yesus membicarakan perihal tentang runtuhnya menara Siloam yang membinasakan 18 orang. Mereka mengira orang-orang yang binasa itu lebih berdosa daripada orang lain. Namun Yesus bilang secara tegas: tidak. Yang satu tidak lebih baik dari yang lain. Yesus berkata, “kalau kalian tidak bertobat dari dosa-dosamu, kalian semua akan mati juga seperti mereka.” Tentu ucapan Yesus itu masih berlaku hingga sekarang.

Jadi orang yang terpapar covid dan yang tidak terpapar covid perlu mengevaluasi hidupnya dan meninggalkan jalan hidup yang sia-sia dan kembali kepada Yesus. Seperti anak hilang yang pulang kepada ayahnya. Bertobat dan tinggalkan masa lalu yang tidak baik. Datang kepada Yesus dan percayalah, di dalam Dia kita sudah diselamatkan.

**

Sekarang saya dapat katakan bahwa pandemi yang pada awalnya sangat tidak bersahabat ini (sampai sekarang pun masih belum bersahabat), membuat saya semakin mengenal karakter Tuhan. Saya dapat merasakan dan melihat kesetiaanNya, pemeliharaanNya, kemurahan hatiNya, kelemahlembutanNya, suka memaafkan, dlst. 

Jadi sungguh benarlah ucapanNya ini, “cukuplah kasih karuniaKu kepadamu, sebab justru dalam kelemahan atau keterbatasanlah kuasa Tuhan sempurna.” Ini bener banget dan telah terbukti berulang-ulang dalam hidup kami selama era pandemi ini. 

Never thought i’d say this but now i can say that this pandemic is a blessing in disguise. Sesuatu yang pada awalnya tampak buruk atau tidak menyenangkan, tapi ternyata di kemudian hari ia menghasilkan sesuatu yang baik.

4 thoughts on “Renungan covid

  1. Hai Mba, lagi blogwalking dan ku menemukan blogmu. Happy for you karena bisa semakin merasakan kuasa Tuhan di masa seperti ini. Aku sendiri merasa beberapa bulan ini semakin stagnan, dan merasa lagi spiritually distant aja. Tapi semoga ada momennya aku bisa connect lagi spiritually, karena rasanya gak enak banget di kondisi ini. Anyhow, salam kenal dan semoga tetap sehat selalu ke depannya yaa. 🙂

    Like

    1. Hello Nabilah 😊 aku pernah lho stranded di blog kamu bbrp bulan lalu 😁😁 makasih udah mampir kesini ya. Salam kenal juga😊 Tetap sabar menjalani hidup ini ya Nabilah 😊

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s