Tentang memaafkan

Seberapa sering kalian marah dalam seminggu? Sekali? Dua kali? Atau tiap hari marah? 😁😁 I used to be sangat pemarah. Bapak saya sering nasehatin agar saya sering-sering senyum ramah supaya wajah saya enggak manyun melulu seperti orang yang batinnya tertekan. Wajah saya dalam foto di buku rapor pun mukanya tertekuk melulu, dan selama bertahun-tahun saya enggak senang diambil fotonya atau dijepret. 😁

Orang yang dikuasai kemarahan bertahun-tahun itu cadangan emosi positifnya sangat sedikit. Terlalu banyak ‘hot button’ atau pemicu yang jika tidak sengaja kepencet akan segera membuatnya ‘meledak’. Kepala jadi cenat cenut, wajah pun jadi jelek karena keramahan lenyap.

Dan orang yang dikuasai kemarahan bertahun-tahun itu cenderung sangat kritis serta judging terhadap hampir semuanya. Yang lain salah semua, yang paling bener cuma diri sendiri. Padahal hati saya yang bobrok banget. But i didn’t realize it back then. Jadi saya judging kepada nyaris semuanya karena kemarahan menumpuk dan satu pun belum ada yang dimaafkan. (saya pernah menulis dalam Kritis Kebablasan yang adalah titik awal saya ucapkan selamat tinggal kepada kritik yang sia-sia).

Semua meluntur perlahan sejak saya memulai perjalanan pertobatan di Agustus 2018, hingga suatu hari seseorang berkata bahwa saya selalu tersenyum lebar ketika diambil fotonya. Saya senang mendengarnya. 😁 Berarti sudah ada perubahan dalam hidup. 😁

Sekarang saya dapat senyum lebar bukan karena hidup enggak ada masalah, dan bukan karena saya enggak pernah marah lagi. Tentu saya masih marah dan masalah hidup masih banyak. Kemarahan adalah perasaan yang diberikan Allah untuk menunjukkan ada yang salah. Tapi saya telah belajar to put the problems in God’s hands. It’s not an easy way. No.

We people are tend to solve problems the way we want it to be without consult them to God at the very first place. Consult to God ini artinya kita berdoa dulu, lalu cek ricek kepada Firman Tuhan apakah sesuai atau melenceng, lalu tanya pendapat orang yang kita percayai yang tentunya punya hubungan baik dengan Tuhan dan sesama.

Kemarahan berhubungan erat dengan keinginan-keinginan atau harapan yang tak terpenuhi. (seperti yang pernah saya tulis dalam The Danger of Anger).

Dalam proses penyembuhan saya dari trauma tahun 2017, pertama-tama saya diminta untuk memaafkan. Memaafkan semua kejadian yang tidak enak yang pernah terjadi sejak saya kecil hingga saat itu. Karena memang udah banyak banget kemarahan yang saya tumpuk dalam hati.

Saya juga belajar dari ibu saya. Ibu saya itu kalo marah sebentar saja. Setelah beberapa saat, beliau dapat berbicara dengan nada yang lembut kepada orang yang baru dimarahinya. Dulu hal itu sulit saya terima, karena, dulu saya pikir orang yang dimarahi masih berusaha menganalisa sebab-musabab dan menata hati, but my mom seemed very quickly to restore herself. Namun sekarang saya udah belajar bahwa kalo marah itu sebaiknya memang sebentar saja, supaya kejahatan tidak menguasai hati kita (Efesus 4:26-27).

Dalam proses belajar memaafkan itu Tuhan sering menempatkan saya dalam situasi yang menggembleng saya untuk belajar sabar. Karena yang namanya proses pastinya emang butuh waktu sampai kita bener-bener menguasai yang kita pelajari. (seperti yang pernah saya tulis dalam diperlukan waktu untuk bertumbuh). Dan kita butuh kesabaran tersebut bukan cuman buat seminggu dua minggu, melainkan untuk seterusnya.

Neil T. Anderson yang telah puluhan tahun menjadi konselor juga berkata pemulihan dimulai dengan memaafkan. Hormat kepada Tuhan juga artinya kita belajar memaafkan. Neil juga menulis buku ‘Becoming a Disciple-Making Church’ atau ‘Menjadi Gereja Pembuat Murid’ yang menceritakan pengalamannya menolong orang-orang yang jiwanya terluka.

And i recently learn that Yesus seringkali mengatakan ‘dosamu telah diampuni’ kepada orang-orang yang IA sembuhkan dan selamatkan. Surely Jesus knows that the act of forgiving will set people free. 🙂

Jesus also said: jika seseorang berdosa atau bersalah kepada kita, kita mesti memaafkan mereka tujuh puluh kali tujuh kali (Matius18:21-35). Artinya: sering-seringlah memaafkan. 🙂 Tuhan sudah memaafkan kita, jadi kita pun dapat memaafkan mereka-mereka yang bersalah kepada kita, dengan ikhlas.

6 thoughts on “Tentang memaafkan

  1. Aku belajar untuk gak marah supaya energiku gak habis, karena marah-marah itu menghabiskan energi. Menyenangkan sih kalau udah bisa memilih gak marah dan memaafkan itu. Rasanya plong dan badan (physically) juga jadi gak tegang semua.

    Like

    1. Betul mbak, marah2 itu menghabiskan energi, dan memaafkan itu bikin badan jadi plong 😊😊 thanks mbak Ailsa

      Like

  2. Aku belajar dari anak kecil. Kalau mereka marah menangis meraung2, lalu merasa lega setelah emosi terluapkan, beberapa saat kemudian sudah lupa dan tertawa bebas lagi. Lupa tentang kemarahan sebelumnya. Tidak dibawa ke hati. Selesai ya selesai.

    Like

  3. Dulu saya juga agak sulit memaafkan. Sejak tragedi hebat yang saya alami dalam hidup. Sejak prahara menimpa kehidupan saya berkeluarga. Butuh waktu bertahun tahun bagi saya untuk memaafkan diri sendiri dan orang lain. Pengalaman menempa pribadi saya untuk berusaha menjadi lebih baik. Ternyata gak memaafkan itu ibarat api yang memakan sekam. Memakan diri sendiri.
    Ada satu lagi yang bikin saya begitu marah, dendam dan sulit memaafkan: piutang. Sewaktu orang mau utang begitu mudah lidahnya berjanji. Contact intens. Perilaku sangat baik. Itu hanya menjelang mendapat utangan. Setelah dapat utangan mulai merenggang. Setelah utang jatuh tempo, mulai menghindar. Ditagih jawabannya tar-sok tar-sok (bentar besok, bentar besok). Berlangsung bertahun-tahun. Sampai saya bosan untuk menagih. Sempat berpikir, kok begini amat ya, padahal saya kan menagih uang saya sendiri. Itu membuat tekanan batin. Setelah capek menagih saya pasrahkan ke Tuhan. Kalau emang rezeki saya akan kembali. Itulah keadaan beberapa tahun dulu. (Maaf, curhat, hehehe…)

    Sekarang saya easy going. Gak mau membebani diri sendiri. Enjoy aja menikmati hidup. Mau pahit, mau manis kehidupan ini saya nikmati aja.

    Like

    1. Tidak memaafkan memang seperti api yang memakan diri sendiri pak. Betul banget. Makasih banyak utk curhatnya pak Alris. Sama2 kita belajar dan berusaha terus menjadi pribadi yg lebih baik 😊 sehat selalu pak

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s