Mary Karr, Pencarian Makna Hidup, dan Belajar Mengenal Tuhan

Pada suatu artikel, saya membaca kisah seorang perempuan bernama Mary Karr. Ia penyair dan penulis memoar. Mary berkata bahwa sepanjang masa pertumbuhannya ia tidak merasa aman di rumahnya. Kedua orangtuanya peminum berat alkohol, dan Mary juga berjuang untuk berhenti dari kecanduan alkohol dan sinisme. Seseorang kemudian menyarankannya untuk berdoa. Waktu itu Mary melabeli dirinya sebagai agnostik dan feminis.

Help me stay sober. Thanks.” Itulah doa yang dipanjatkan Mary setiap hari. Awalnya ia berdoa selama 30 hari. 

Setelah melihat bahwa hidupnya berubah semakin baik, akhirnya secara total ia berhenti minum. Melalui doalah ia akhirnya percaya kepada Tuhan. Roh Allah yang Kudus mengubah hidupnya.

Suatu kali Mary mau biopsi untuk mengecek apakah ada sel kanker di tubuhnya. Saat seorang perawat mengecek tekanan darahnya, dia mulai menangis. Tangis yang berupa kesadaran bahwa, “Entah ada kanker atau tidak dalam tubuhku, sekarang aku tahu bahwasanya aku tidak sendirian menjalaninya. Ada Kristus menemani.”

Saya terharu membacanya karena seperti itu jugalah kualami. Tahun 2012 saya ada masalah yang membuat saya down dan saya putuskan saat itu saya ingin menjadi orang yang lebih baik. But then masalah muncul dan muncul lagi dan saya tidak sadar hidup yang saya jalani semakin memburuk. Gelap.

Setelah saya perhatikan dan amati selama ini, ketika ada masalah, entah kenapa tanpa disadari, kita ingin berhenti berbuat baik kepada diri sendiri dan kepada orang lain. Maka sejak itu saya menjauh dari kebaikan hidup. Mungkin itu karena natur pemberontakan yang diwariskan nenek moyang kita Adam-Hawa, yang tidak percaya kepada TUHAN Pencipta mereka. 

Saya pun tanpa sadar meninggalkan Tuhan, hingga muncul masalah di tahun 2017-2018 yang adalah puncaknya. Sebuah persimpangan yang membuat saya mempertanyakan makna hidup: apakah hidup hanya untuk begini-begini aja? Ada masalah pergi ke mall. Trus besok ada masalah lagi pergi ke mall lagi. Dan begitu seterusnya. Itu adalah titik terendah hidup saya.

*

Saya mencoba berbagai cara for my coping mechanism agar dapat merasa bahagia kembali. Mulai dari nonton film, makan-makan, jalan-jalan, mengonsumsi lucu-lucuan, baca buku, dengar musik. But still nothing. Saya tetap merasa hampa dan sedih. 

One day, saya mendengar satu renungan yang mengatakan, “Masalah enggak bakal selesai kalau kamu pergi ke kafe atau ke mall. Berdoalah, datang kepada Tuhan dan mintalah Dia hadir dalam hidup kita. Masalah mungkin masih ada setelahnya, namun kita tidak sendirian lagi menjalaninya.” 

Renungan itu bener-bener menohok hatiku. And from that moment, saya terus meminta pertolongan Tuhan untuk memberi solusi bagi permasalahanku. Sejak itu, saya rajin menuliskan di blog ini jawaban-jawaban untuk berbagai pertanyaan saya tentang kehidupan. 😊

*

Perjalanan pertobatan selama nyaris empat tahun ini bener-bener luar biasa. 🙂 Saya dapat berjumpa dengan begitu banyak orang hebat, orang-orang rendah hati, dan saya dapat belajar banyak dari mereka. 🙂 

Saya belajar bahwasanya hidup sekarang ini tidak lagi saya jalani ‘sendirian’. Saya belajar untuk berhenti sinis memandang kehidupan ini, belajar untuk berhenti berharap kepada diri sendiri, dan belajar untuk tidak lagi dikendalikan oleh omongan maupun sikap orang lain. Sekarang ada Kristus yang menolong. Ada Kristus untuk ditanyai tentang bagaimana ini-bagaimana itu, dan IA selalu menjawab setiap pertanyaan dan pergumulanku. 

Mengenal Tuhan membuat hidup ini bermakna untuk dijalani. Kita semakin dapat menghargai orang lain walaupun kadang tidak sependapat dengan mereka; kemudian dapat belajar memaafkan dan belajar sabar. Kemudian dapat belajar menerima kenyataan hidup, dapat belajar hal-hal baik dari orang lain, dapat berterima kasih, dapat berhenti dari begitu banyak kecanduan pada hal-hal yang menjerumuskan, dan banyak lagi hal bermakna lainnya yang telah kudapat setelah mengenal Tuhan dalam hidup pertobatan ini. 

Belakangan yang paling terasa adalah kesadaran bahwa hanya karena Kristuslah maka saya dapat belajar hidup berdampingan dengan orang-orang lain di sekitarku. Tanpa Kristus hanya ada perpecahan, perkelahian. Saya terus-menerus disadarkan bahwa aku pun tiap hari melakukan kesalahan, dan orang-orang yang kutemui setiap harinya pun had issues in their life. Kemudian saya dapat belajar menerima keluargaku, dan sekarang dapat kukatakan bahwa orang tuaku telah melakukan yang terbaik untuk kami anak-anaknya. Menjadi orang tua memang bukan tugas yang mudah. Tanggung jawabnya besar, tantangannya banyak

Pada waktunya, orang-orang di sekitar kita, keluarga maupun teman, satu per satu akan pergi meninggalkan kita. Mungkin karena kematian, pindah rumah, kerja, sekolah, menikah, dll. Hanya Tuhan yang tetap tinggal bersama kita. Ia berjanji menyertai kita sampai kepada akhir zaman. 🙂

Advertisement

One thought on “Mary Karr, Pencarian Makna Hidup, dan Belajar Mengenal Tuhan

Comments are closed.