Jalan Kebahagiaan Hidup – Buku-Buku yang Menolong dalam Perjalanan Pertobatan (#1)

Membaca buku-buku yang akan segera saya paparkan cuplikannya berikut ini, membuat saya semakin menyadari bahwa meskipun tumbuh besar dalam keluarga berlatar belakang suatu keyakinan kepada Tuhan, tidak otomatis membuat seseorang mengenal Tuhan. Mengenal Tuhan adalah suatu proses yang berlangsung terus-menerus.

Seseorang pernah berkata, professing to believe something and believing it are two different things.” Mengucapkan bahwa kita percaya kepada sesuatu dan memercayainya adalah dua hal yang berbeda. Kita melakukan ini karena our practice is actually based on profession, not on belief. And that’s partly because we don’t base our beliefs on knowledge.

The best thing to do is to know what you believe. And that will stabilize belief, so that when you are confronted with a choice, then you will go with what you believe. We always live up or down to our beliefs.

Selama bertahun-tahun mengucapkan kredo ‘Aku Percaya’ dalam setiap kebaktian hari Minggu, rupanya tidak menjamin saya percaya kepada apa yang saya ucapkan. Ketika krisis hidup melanda, saya berjalan terseok, karena rupanya deep down inside, saya betul-betul tidak kenal siapa Tuhan yang setiap hari Minggu saya ucapkan percaya kepada-Nya tersebut, dan saya tidak betul-betul memercayai-Nya.

Namun karena kebaikan-Nya, Ia mengulurkan tangan-Nya dan menuntun saya kepada beberapa buku untuk menolong saya semakin mengenal Tuhan, dan memberi jawaban untuk berbagai pertanyaan saya. So, here they are. Saya akan membaginya dalam beberapa bagian ya, supaya enak bacanya. 🙂

Jalan Kebahagiaan Hidup – Felix Supranto.

Alasan saya mengambil buku ini dari rak buku adalah karena simpel saja: saya ingin merasa bahagia kembali. Setiap orang pasti ingin berbahagia dalam hidupnya, kan? Penulis berkata bahwa untuk mencapai kebahagiaan hidup, kita dapat mempraktekkannya dengan cara:

1. Membiasakan diri mengeluarkan kata-kata yang bermanfaat, menguatkan, dan mendatangkan berkat.

2. Makan secukupnya dalam jumlah yang pantas.

3. Menjadi pembawa berkat dalam perbuatan baik kepada sesama tanpa mengharapkan balasan.

4. Berpikir seribu kali sebelum menghakimi, dan melatih diri bersikap reflektif.

5. Melatih rasa cukup agar kita mampu melihat yang terbaik dari apa yang kita miliki, sehingga membuat kita dapat menghargai dan memanfaatkan sebaik-baiknya.

6. Bersahabat dengan orang miskin. Bukan hanya miskin harta, namun juga miskin kasih sayang, miskin perhatian.

7. Bersahabat dengan perbedaan, agar kita tidak merasa lebih unggul dari yang lain.

8. Komitmen kepada Tuhan: fokus dan gigih.

9. Tekun berdoa.

10. Tekun berjuang dalam iman kepada Tuhan.

11. Berharap kepada Tuhan.

12. Mengasihi seperti Yesus.

(bersambung ke bagian 2)….

Btw, do you have any book that helps you grow better in your life journey?