Nukilan Buku Different: Perjalanan Ibu & Anak Hidup dengan Mental Disorder

Baru-baru ini, secara enggak sengaja saya menemukan buku berjudul ‘Different’, yang bercerita tentang perjalanan seorang pria bernama Nathan yang didiagnosa severe OCD (obsessive compulsive disorder), ADHD (attention deficit hyperactivity disorder), dan ODD (oppositional defiant disorder).

Dalam buku yang ditulis bersama ibunya yang bernama Sally Clarkson, ia menceritakan perjuangan mereka yang butuh bertahun-tahun untuk didapat diagnosanya; yakni, ketika Nathan berusia 15 tahun.

Dan iya itu katanya part of genetic dan besar kemungkinan dari pihak Sally. Sally sendiri rupanya berperilaku seperti Nathan sewaktu kecil. Antara lain mudah marah, sering teriak sampe guling-guling, cuci tangan berkali-kali sampai berdarah, sulit tidur, dll. Namun ketika Sally kecil, ortunya saat itu tidak tahu bagaimana menghadapi dia dikarenakan berbagai keterbatasan tentunya. Jadi ortunya semacam menyuruh Sally to suppressed those behaviors / feelings.

Jadi menurutku, kita sangat beruntung hidup saat ini karena di zaman ini ilmu pengetahuan berkembang pesat, sehingga bisa cepat mendiagnosa berbagai keadaan maupun illness/disorder yang kita miliki, dan kita bisa tahu treatmentnya bagaimana supaya kualitas hidup jadi membaik.

One thing that draw me in to Nathan’s story is that when his mama Sally diperhadapkan dengan keadaan anaknya itu, dia bergumul dengan Tuhan, and God answered, “What if raising Nathan is an act of service I have called you to? Will you accept him as a gift from Me? Will you submit the circumstances he brings to your whole family because you believe I am in control? Will you humble yourself and accept My will and stop fighting against him? Even if no one else ever sees the battles you have lived through or knows your quiet faithfulness to love him, your service of worship to Me is not lost. I see you! You may feel alone because so few understand, but you are not alone. I am with you and with him every day. Nathan is fearfully and wonderfully made; I formed him in your womb. He is different because I allowed it. He has my fingerprints all over his heart, mind, and soul, and his personality is a gift, not only a challenge.”

That is amazing, right?! 

Si Nathan itu sekarang umurnya sekitar 33 tahun, and now working di bidang seni kesukaannya, menjadi aktor, dan penulis. Mereka bilang keadaan itu akan ada untuk seumur hidup. Jadi sebagai solusi, Nathan fokus pada his strength/kebaikan and belajar to handle sisi-sisi kelemahannya.

Beberapa poin yang menarik dari buku ini:

– Pada usia ke-22 Nathan kena OCD attack. Waktu itu dia mau berangkat ke bandara dan udah siap semua tinggal pergi. But becoz of the attack, it was so hard for him to move on. Itu devastated banget sih bacanya. Akhirnya ibunya mengajak dia bicara pelan-pelan dan menjelaskan situasi yang terjadi.

– Penerimaan terhadap situasi Nathan tidak datang secara natural kepada Sally. Dia belajar seumur hidup melalui realita-realita yang datang ke hidupnya melalui keluarganya dan anak-anaknya. Penerimaan itu penting and comparison is truly a toxic thing.

– Role model Sally dalam membesarkan anak-anaknya adalah Yesus. Yesus menggunakan different approach kepada murid-muridNya, and so is Sally kepada keempat anaknya yang kesemuanya berbeda kepribadian. Dia melakukan trial and error and making so many mistakes selama membesarkan anak-anaknya, dan dia minta maaf sama anak-anaknya jika salah. “There’s no perfect family. We all need grace from God,” she said. She also add, “Your child is more than just a diagnose. He belongs to God.” 

– “It’s okay to be different, tapi… mengapa disebut disorder? Apakah Tuhan membuat kesalahan sewaktu menciptakan saya?” Ini adalah pergumulan Nathan kepada Tuhan; dan pada akhirnya pergumulannya tiba pada titik: betul Tuhan itu menerima kita apa adanya, but He doesn’t stop there. Tuhan mau hidup kita membaik. Begini dia bilang:

The hard truth is that we live in an imperfect world, one that is filled with sickness, disease, abuse, pain, addiction, injustice, and fear. And every one of us has been touched in one way or another by the brokenness of this fallen world. Every one of us has baggage. Not one of us is perfect, or complete. None of us even comes close. 

But the beauty is that, although our loving Creator accepts us just as we are, in the middle of our brokenness and pain, He doesn’t stop there. Instead, He offers us what no one else can – a story that can lead us forward.. We must stop looking to escape the hurt and instead learn to recognize and face our pain and brokenness.. We must learn to desire the light He offers more than the safety and comfort of the darkness where we already live.. So instead of running from the hurt, we must instead embrace it, live with it, and trust in God’s ability to use what feels like death as the catalyst for finding life.. Those who are actually dedicated to becoming their better selves will have a story of hard work, realization, dedication, instrospection, and humility – which will lead ultimately toward strength and wholeness.”

Nathan juga bilang dia sangat beruntung memiliki keluarga seperti keluarganya dan memiliki orang tua seperti ayah ibu yang mengasihinya. Keren banget ya!

**

Di buku ini sekilas Sally bercerita tentang homeschooling keempat anaknya sedari dini. Itu membuat saya makin penasaran tentang homeschool. Menarik banget lho. Apalagi setelah saya baca sedikit tentang pengalaman orang-orang yang memulai praktek homeschool, mereka umumnya bilang bahwa: ortu tidak perlu pendidikan formal atau training atau mesti gimana. Yang penting kita ada ikhtiar untuk terus mau belajar. Itu doang. Keren banget kan!

After reading this book, pandangan saya berubah ketika melihat anak-anak. “Bisa jadi anak ini juga ADHD, atau OCD, atau ODD,” pikir saya kadang. And their parents must be sometimes so tired and maybe have no idea of what’s going on with their children.

I once reading di blog Raden Prisya tentang betapa kompleksnya ‘segala sesuatu’ yang terdapat dalam diri satu anak. Mulai dari gen orang tua (kombinasi dari ortu, kakek nenek kita, ortu dari kakek nenek kita), kemudian ditambah kebiasaan ibu di kala mengandung, dlst. Intinya, dalam diri satu anak itu: complicated.

Jadi masih mau bandingin anak kamu dengan anak orang lain?” begitu kira-kira tanya Raden Prisya di dalam postingannya. Sudah tentu tidak pastinya ya. Hanya ada satu kamu dan satu saya di dunia ini. One unrepeatable existence.

All in all, buku ini rekomended bangetlah dibaca untuk menambah pengetahuan dan referensi tentang mental disorder dan bagaimana pengalaman mereka yang menjalaninya, dan dapat membuat kita belajar berempati kepada orang lain. Membesarkan anak memang bener-bener challenging. Kudos to all of you parents out there. Be patient in your journey and keep asking help from our One Magnificent God.

One thought on “Nukilan Buku Different: Perjalanan Ibu & Anak Hidup dengan Mental Disorder

Comments are closed.