Tentang Kebohongan

Saya kira, bohong atau dusta adalah kejahatan paling tua di muka bumi. Kita bisa melihatnya di kitab Kejadian, bagaimana iblis mengelabui Hawa kemudian Adam, untuk percaya kepada kebohongan bahwa mereka tidak akan mati jika memakan buah terlarang.

Kebetulan saya baru membaca artikel tentang kebiasaan orang dewasa dan kekanakan. Disebutkan bahwa kebiasaan berbohong ini adalah salah satu tanda bahwa seseorang belum dewasa dan masih kekanakan.

Mari kita telaah, ya. Kadang gini, kan, situasinya; kita pernah memberitahu seseorang tentang sesuatu, namun, tanggapan mereka tidak seperti yang kita harapkan. Kita berharap dukungan atau solusi, eh, yang ada malah omelan atau bully yang kita dapat.

Jadi berdasarkan pola yang berulang, orang yang kita beritahu tersebut tanggapannya tidak sesuai harapan kita, lama-lama kita jadi males dan mentah hati hingga akhirnya menyimpan sendiri beban dalam hati hingga membusuk. Nah, karena kita enggak mau ngasitau yang sebenarnya, kita memberikan jawaban lain yang cocok untuk mereka atau yang menyenangkan hati mereka. Padahal kenyataannya bukan itu.

Jadi pada akhirnya kita memilih berbohong.

Satu kali berhasil, kita akan kembali berbohong di kali berikutnya. Sampai akhirnya kita enggak sadar udah hidup dalam gurita kebohongan dan seringkali jadi enggak bisa membedakan mana yang benar dan mana yang bohong.

Sering, kan, kayak gitu polanya?

Dan dari telaah saya, sikap berbohong ini bukanlah sikap yang berdiri sendiri / tunggal. Biasanya itu sejalan dengan kebiasaan hidup sehari-hari yang tidak baik. Misalnya karena kita mengonsumsi hal-hal tidak senonoh atau vulgar. Atau bisa jadi karena kita udah lama memendam kebencian dan kemarahan kepada seseorang dan belum selesai. Jadi judulnya memanjakan pikiran-pikiran jahat lah.

Nah, kombinasi semua itu membuat cara berpikir kita dan cara hidup kita makin lama makin mirip dengan sumbernya kebohongan, yaitu iblis/setan/si jahat.

Jadi kebohongan ini kayaknya adalah efek samping dari kebiasaan-kebiasaan yang tidak baik tadi.

Lantas bagaimana cara melepaskan diri dari kebohongan yang menjerat ini?

Dari pengalaman saya, waktu itu saya makin lama makin tidak sadar dengan gaya hidup yang udah amat jauh dari Tuhan. Akhirnya, dengan cara-Nya, Tuhan menegur melalui kejadian traumatis di tahun 2017-2018 dan menunjukkan dimana letak kesalahan saya. I made so many lies.

Kemudian saya minta maaf kepada Tuhan. Tapi rupanya belum cukup. Akhirnya saya minta maaf kepada keluarga saya yang udah begitu lama saya bohongi.

Mengerikan memang hasil kebohongan ini. Rumah tangga dan hubungan keluarga pun jadi tak sehat dan rusak.

Kemudian, pernah dengar kata nurani, kan? Nurani adalah wakil suara Tuhan dalam diri kita. Coba kita ingat misalnya saat berkata bohong, nurani kita menuduh, kan? “Eh, lo koq bohong, sih?” Gitu, kan? Nah, tapi, kalau kita sering mengabaikan si nurani ini, makin lama suaranya makin kecil dan makin lama jadi hilang.

Maka setelah yang pertama tadi ditegur Tuhan dan kita minta maaf, langkah berikutnya adalah asahlah kepekaan mendengar nurani yang mengingatkan kita untuk melakukan hal baik dan terpuji. Jika hati kita merasa tertuduh, segeralah berdoa. Katakan, “Tuhan, tolong selidiki hati dan pikiranku. Tunjukkan kesalahan saya dan tolong saya memperbaikinya.”

Kemudian, stop baca/lihat/dengar hal-hal yang tidak senonoh/vulgar dan beralihlah membaca Firman Tuhan. Firman adalah bekal dan tuntunan untuk hidup selaras dengan hatiNya Tuhan.

Saya sendiri waktu itu juga disadarkan ketika membaca Firman. Saya lupa tepatnya tertulis di Amsal atau Pengkhotbah, kira-kira bunyinya gini: jika kita menyembunyikan sesuatu dari seseorang, itu artinya sebetulnya kita membenci orang tersebut.

Itu rasanya kayak disambar geledek waktu saya membacanya.

Tapi kalau dievaluasi lebih lanjut, memang bener, kan, kita enggak mau ngasitau sesuatu kepada seseorang karena kita memang enggak suka dengan mereka?

Mungkin balik lagi alasannya seperti yang saya tulis di atas tadi: kita males karena tanggapannya tidak sesuai harapan kita. Kalo kita udah enggak suka seseorang atau sesuatu, biasanya kita punya 1001 alasan untuk menjauh dari mereka.

Langkah berikutnya adalah: teruslah berdoa sebelum melakukan aktifitas apa pun. Misalnya kita ingin sampaikan suatu hal kepada seseorang, kita berdoa dulu. Tuhan selalu tolong jika permintaan kita bertujuan luhur. Jadi cek ricek dulu permintaan kita apakah untuk yang luhur atau semata untuk menyenangkan keinginan badaniah.

**

Mungkin ada dari kita yang bilang: ah, tapi kan kalo saya bohong tidak menyakiti orang lain. Oke, orang lain mungkin tidak tersakiti, tapi kita mesti ingat bahwa ada Tuhan yang melihat tiap tindakan kita di muka bumi ini. Dan itu menyakiti hati-Nya.

Dari penelitian saya, saya melihat bahwa Tuhan bener-bener enggak mau hidup kita sesat dan rusak. Tuhan ingin kita hidup dalam kasih, sukacita, damai sejahtera, kebaikan, kesetiaan, kelembutan, kemurahan hati, kesabaran, dan pengendalian diri. Semua ini adalah kebajikan dan inilah yang mesti kita ulang-ulang selama hidup di dunia ini. Kita minta dan doakan, serta kita latih. Ora et labora.

Advertisement

2 thoughts on “Tentang Kebohongan

  1. Guwe melatih diri engga mau bohong, karena bohong itu capek buat otak. Pakai mikir. Tapi serba salah juga, di lingkungan kita kalau jujur banget, jatuhnya dianggap gak sopan. But well…yang penting gak ribet mikir bikin bohong, white lie sekalipun.

    Like

Comments are closed.