Tentang Menulis dan Journaling

Sewaktu SMP, saya mulai berkenalan dengan mata pelajaran Bahasa Indonesia. Pak Guru kami bener-bener piawai mengajar pelajaran ini, sehingga, begitu mengetahui ternyata ada pelajaran yang mempelajari tentang majas, paragraf, jenis kalimat, dlsb, saya bener-bener TERPUKAU karena rasanya kayak ketemu jodoh yang β€˜i want to do this thing for the rest of my life’. 😁😁

Jadi ketika saya tahu bahwa ada pelajaran tulis-menulis, saya yang langsung jatuh cinta sama pelajaran ini pun bercita-cita ingin mendalami dunia tulisan dan mempelajari jurnalistik. Seperti yang pernah saya tuliskan dalam postingan In Pursuit of Jesus.

Kemudian bapak saya belikan buku tentang bagaimana menulis yang baik, dan saya pun mulai memberanikan diri mengirim beberapa karya saya ke media cetak lokal di Medan dan ternyata dimuat. Itu rasanya seneng banget lho. Karena artinya karya saya bisa diterima dan saya merasa dihargai. 😊😊

Inspirasi menulis bisa datang dari mana saja. Dari mimpi, dari obrolan antar kawan, dan mostly dari kejadian sehari-hari. Perasaan sebel sama temen pun bisa dijadikan cerita. Haha.. 😁😁

Kolom Sendiri

Pernah ada satu masa dimana koran Kompas edisi Minggu biasanya saya tunggu-tunggu kemunculannya. Isinya bagus-bagus. Ada cerpen, resensi buku, pembahasan budaya, seni, soal rumah, dll. Nah, yang paling saya nantikan adalah kolomnya Samuel Mulia. Tulisan beliau yang biasanya tentang isu-isu yang dekat dengan keseharian hidup dan yang dibawakan dengan humor itu, keren banget menurut saya. 😁😁 Saking senengnya sama kolom Samuel Mulia ini, waktu itu saya bermimpi punya kolom sendiri juga suatu hari. Haha.. 😁😁

Sekarang, untunglah ada blog sehingga kecintaan menulis bisa terus tersalurkan, dan akhirnya saya punya β€˜kolom’ sendiri di blog sendiri. Haha.. 😁😁

Journaling

Mungkin kecintaan menulis ini muncul karena sedari kecil saya rajin menulis buku harian atau diary. Ibu saya yang mengenalkan kegiatan ini. Kalau lagi ada masalah, biasanya panjang banget isi tulisan saya. Setelah selesai menulis dan isi di kepala udah ditumpahkan, biasanya perasaan jadi lega.

Setelah menuliskan permasalahan dengan detail, dibaca lagi keseluruhan, lalu setelah itu kertasnya saya bakar. Tapi itu cara saya yang dulu. I have trust issues back then.

Dulu saya berpikir gini: orang lain udah banyak masalahnya, jadi saya tidak perlu menambahi masalah mereka; cukuplah saya sendiri yang tahu apa masalah saya. Tentu saja sikap ini keliru dan tidak sehat.

Semasa perjalanan penyembuhan dan pertobatan sejak 2018, saya akhirnya tahu bahwa kita perlu pertolongan orang lain dan mestilah memberitahu orang lain apa yang ada dalam hati dan pikiran. Itu akan amat menolong dalam penyelesaian masalah.

Tentu saja kita mesti hati-hati memilih kepada siapa kita mencurahkan isi hati. Pertama mesti berdoa dulu. Lalu, kita bisa lihat dari rekam jejak kehidupan mereka apakah bisa dipercaya atau tidak.

Sekarang, selain menulis di blog, saya juga menulis jurnal harian untuk mencurahkan isi hati. Menulis jurnal harian kembali saya lakukan sejak proses penyembuhan di tahun 2018. Di bawah ini adalah foto beberapa buku jurnal saya sejak 2018 hingga sekarang. Lumayan juga jumlahnya ada 14 buku dengan ukuran kertas dan ketebalan berbeda-beda.

Selain menulis jurnal di buku, saya juga menulis di notes hp, dan di leptop. Kadang kalau males banget nulis, saya berbicara dan merekamnya dengan voice memos. Itu juga amat menolong. Karena intinya adalah mengeluarkan apa yang ada dalam kepala supaya lebih ringan.

Saya menulis seperti berbicara kepada teman baik yang setia mendengarkan, yaitu kepada Tuhan. Nah, kalau saya bicara dengan teman baik yang saya harap dapat memberi solusi, maka saya mesti menulis jujur apa adanya.

Dulu dan Sekarang

Bedanya menulis jurnal dulu dan sekarang adalah, karena sekarang saya menulis jurnal secara terbuka dan jujur, jurnal saya sekarang bebas dibaca oleh siapa pun yang ingin membacanya. Sikap jujur terbuka ini saya latih semenjak memulai perjalanan penyembuhan dan pertobatan di tahun 2018.

Saya tidak lagi takut dihakimi atau dibully atau diejek karena menuliskan apa yang saya rasakan dan yang saya alami, karena, semua itu adalah proses pembelajaran menuju manusia yang lebih baik dan pembelajaran menjalani kehidupan yang bermakna.

Apa Perlunya Bikin Jurnal?

Mungkin ada yang tanya gitu, ya? Dari pengalaman saya selama ini, beberapa manfaat bikin jurnal adalah:

  • Kita bisa melihat progres diri kita yang dulu dan sekarang.
  • Journaling is good to map and organize our thoughts. Misalnya untuk menyelidiki masalah, pikiran yang tadinya kayak benang kusut akan menjadi tenang setelah dituangkan secara rinci dalam jurnal. Kita pun jadi lebih jernih berpikir dan jadi makin sadar tentang apa sebetulnya yang menjadi inti permasalahan, sehingga melihat suatu persoalan menjadi lebih jelas.
  • Kadang saya merasa menulis itu seperti keajaiban. Sehabis menulis tuntas perasaan pasti lega. Beban apa pun yang ada dalam benak langsung terangkat.

Seseorang pernah berkata: When we take time to journal, it’s allowing our minds to slow down and contemplate something. Most of our days are filled with busyness; giving your mind time to only sit and think, as well as having to articulate the thoughts into words, reveals things that we don’t normally pay attention to.

Jadi, kepada kalian yang sedang bergumul dengan masalah apa pun, saya sangat menyarankan untuk menuliskan apa pun itu yang ada dalam hati dan pikiran kalian. Di bawah ini beberapa tips dari saya, veteran yang udah berpengalaman menulis selama kira-kira 35 tahun:

  • Mulai dari yang simpel dulu. Ceritakan kejadian yang dialami seharian, misalnya. Apa yang muncul dalam pikiran langsung tuangkan dalam tulisan.
  • Ambil waktu khusus untuk menulis. Saya biasanya pagi hari jam 4-6. Atau malam hari bisa juga. Pilihlah mana waktu yang paling cocok untuk kita.
  • Latih terus, nanti lama-lama akan terbiasa. Karena, apa pun yang diulang-ulang akan menjadi kebiasaan/habit.
  • Pilih satu topik menarik atau yang menjadi fokus permasalahan atau yang ingin diselidiki. Ungkapkan semua dari awal. Misalnya lagi marah, tuliskan apa yang membuat kita marah, bagaimana perasaan kita, dlst, tuangkan semua.
  • Menulis jurnal yang agak panjang lebih efektif menjernihkan pikiran daripada menulis satu dua kalimat pendek di status medsos.
  • Untuk jurnal refleksi misalnya, pilih topik dan tuliskan dengan tenang poin-poin yang terkait. Lalu lakukan evaluasi dengan menuliskan beberapa kalimat kesimpulan dari topik.

**

How about you dear readers, ada juga yang suka banget menulis? 😁😁 Apa yang paling menyenangkan dari kegiatan tulis-menulis? Apa ada yang suka juga sama kolom Samuel Mulia?

3 thoughts on “Tentang Menulis dan Journaling

Comments are closed.