Perseverance

Pagi tadi aku berencana memasak untuk makan siang kami. Masak tahu dan telur gulai dengan sedikit santan. Tapi, di pagi jelang siang, aku makin merasa males. Badanku masih kurang enakan gara-gara padatnya aktifitas belakangan ini. 

Sempat kepikiran mau pesen gofood aja. Tapi, setelah mempertimbangkan penghematan anggaran belanja, aku pun urung memesannya dan memutuskan, “Ya udahlah mari kita masak aja.”

Nah, karena merasa butuh suntikan semangat untuk acara masak-memasak ini, aku pun memutuskan mendengar satu podcast tentang PERSEVERANCE. 

**

Perseverance adalah kegigihan, ketekunan. The ability to keep going forward. To taking one more step. To enduring through a dark time or a tunnel, by keeping going and determining to finish, to come out the other side. 

Perseverance adalah willing yourself to do something each day. Little by little. Step by step. Every single day. 

“I will choose one more step, one more day. I will choose to keep going, to make it through.”

Kenapa kita mesti keep going? Dalam Ibrani 10:36 disebutkan bahwa jika kita bertekun melakukan the will of God, we will receive what was promised. Seperti Paulus yang bertekun hingga garis finish. Bertekun dalam kasih, bertekun dalam kebaikan, bertekun dalam kesabaran, bertekun memercayai Tuhan. Semua itu akan membuat kita semakin kuat dan semakin baik seiring waktu. 

Ambil contoh para atlit olimpiade. Mereka latihan bertahun-tahun dan berjuang agar menjadi pemenang. They keep their eyes on the prize: the gold medal. 

**

Setelah podcastnya selesai kudengar, aku berdoa dan fokus memasak. Selama memasak pun aku terus berdoa minta pertolongan dari Tuhan agar dimampukan untuk memasak. 

Di luar, sesekali anjingku nangis-nangis cengeng minta perhatian minta ditemani. Kalo lagi sibuk gitu, dan badan pun lagi kurang enak, ditambah lagi suara-suara cengeng anjingku, jadinya aku merasa terganggu. Aku memutuskan untuk mengabaikannya dan terus fokus menyelesaikan masakanku. Nanti ada saatnya anjingku kutemani. 

Sekitar satu setengah jam kemudian, masakanku selesai. Kami akhirnya bisa makan siang. Kekuatanku bener-bener berasal dari Tuhan semata. Aku amat bersyukur kepada Tuhan karena tidak menyerah dengan keadaan yang kurang enak. 

Keputusan yang kita ambil ketika hidup dalam masa sulit akan menentukan our legacy. Karenanya doa menjadi amat penting. Jika kita kurang hikmat, mintalah pada Tuhan. Ia akan memberikannya dengan senang hati.