Perubahan Pasca Pandemi

Pandemi dua tahun ini bener-bener a blessing in disguise for me. Begitu banyak hal-hal baik dan luar biasa terjadi pada kami di masa ini, dan banyak juga ujian yang datang. Tapi ya gak apa-apa. Susah dan senang memang selalu datang silih berganti. Semuanya untuk membentuk kami menjadi pribadi-pribadi yang semakin baik.

Dan berkat pandemi, saya jadi makin sadar tentang apa yang sebetulnya paling penting dalam hidup.

Sekarang, pasca pandemi, ritme hidup kembali berubah. Perubahan memang selalu datang, kan, ya? Tidak seorang pun dapat mengelak dari perubahan. Kalau dilawan justru kita akan semakin sakit. Jadi satu-satunya jalan adalah belajar menerima.

Saya ingat keadaan tubuh saya pasca kena covid tahun lalu. Seperti ada gumpalan menekan dada yang rasanya enggak enak banget. Dan itu berlangsung berbulan-bulan. Trus rambut sering rontok, dan tubuh semacam ringkih melulu. Tapi sekarang semua sudah kembali normal. Beraktifitas sudah enak.

Saya juga ingat di awal pandemi melanda, saya sedih banget karena enggak bisa kebaktian di gedung gereja. But then, setelah terbiasa kebaktian di rumah selama dua tahun, eh sekarang saya justru lebih senang dengan model begini, dimana bener-bener hanya sedikit orang yang berkumpul. Rasanya lebih bermakna dan lebih berkualitas. 

Dari sini saya belajar bahwa hal-hal yang tidak enak memang pasti akan terjadi, tapi semua hanya sementara dan bukan untuk seterusnya. Seperti halnya kemacetan di jalanan yang berlangsung hanya sementara. Dan, bisa jadi dalam perjalanan itu kita akan menemukan sisi positif dari situasi tersebut.

**

Jadi, karena merasa perlu menambah ilmu soal menghadapi perubahan di era pasca pandemi ini, baru-baru ini saya mengikuti webinar yang diadakan oleh salah satu lembaga konseling tentang bagaimana menyikapi perubahan. Pemaparan dari narasumbernya amat menolong saya sehingga dapat melihat perubahan dari sisi yang lebih baik. 

Di bawah ini saya bagikan beberapa catatan yang saya bikin, ya. 🙂 Semoga berguna untuk teman-teman yang mungkin saat ini juga sedang belajar menyikapi perubahan. 🙂 

  • Tujuan kita: bagaimana menyikapi perubahan agar tidak hidup di masa lalu, tetapi hidup untuk masa sekarang.
  • Perubahan terjadi terus menerus dan seringkali kita mesti berespon cepat meski tanpa persiapan. 
  • Macam-macam perubahan: sudah direncanakan; tidak direncanakan; peristiwa positif; peristiwa negatif. 
  • Penyebab perubahan ada dua, yaitu: 1. dari internal (dari diri sendiri), yaitu: daya pikir/kognitif, kondisi fisik, mental/jiwa, spiritual, peran/tanggung jawab; 2. dari eksternal (dari luar diri), yaitu: keluarga, lingkungan, pekerjaan, sosial ekonomi, politik, teknologi, alam, kematian.
  • Contoh tentang menyikapi perubahan: misalkan ada sepasang suami istri yang menderita karena belum punya anak. Kemudian mereka memohon pada Tuhan untuk diberikan anak. Nah, akhirnya mereka punya anak. Tapi, setelah diberi anak, mereka mengeluh: kurang tidur, tidak punya waktu ‘me time’, dlst. Jadi, sikap mereka sebelum punya anak dan sesudah punya anak, mengeluh terus. Mereka menyikapi perubahan dengan melihat sisi buruknya: merasa menjadi korban. Mereka tidak bisa menikmati anugerah yang Tuhan beri. Sehingga, perubahan apa pun yang datang, mereka tetap menderita. Padahal ada keindahan-keindahan yang bisa disyukuri, ada kesempatan untuk pertumbuhan karakter, serta berbagai hal baik lainnya.
  • Lantas bagaimana sebaiknya menyikapi perubahan ini agar kita dapat menikmati warna-warni yang diberikan hidup, sehingga hidup kita semakin bermakna? Pertama, mari belajar beradaptasi dan membiasakan diri terhadap perubahan. Kedua, anggap sebagai tantangan. Ketiga, bersyukur dan ambil pelajaran/hikmahnya. Keempat, tingkatkan terus kemampuan diri. Kelima, berhenti mengeluh dan mulai bergerak. Keenam, siapkan beberapa rencana dan antisipasi bila tidak berjalan sesuai harapan. 

Namun, kita juga mesti ingat bahwa sebaik apa pun kita mempersiapkan diri untuk menghadapi perubahan, kadang akan datang momen yang bisa bikin kita merasa sedih, marah, atau kecewa. Nah, kalo udah gini, identifikasi emosi yang muncul dan temukan penyebabnya. Sampaikan kepada Tuhan, atau kepada teman, atau kepada konselor. 

Segala sesuatu akan berubah. Hanya kasih Allah yang tetap sama untuk selamanya. Segala yang ada pada kita boleh berubah, tapi biarlah perubahan itu membuat kita semakin mengasihi Allah.

Semoga Tuhan selalu menguatkan kita untuk menjalani apa pun yang akan kita hadapi ke depannya. Mari belajar untuk terus memberi arti positif pada perubahan hidup.

Tetap semangat!

2 thoughts on “Perubahan Pasca Pandemi

  1. Mba, aku suka sekali sama poin yang tentang gimana seseorang tetep mengeluh dan bahkan merasa jadi korban bahkan setelah keinginannya dikasih. Karena memang pada akhirnya pilihan untuk mencari silver lining atau hikmah vs. kekurangan akan sesuatu tuh betul-betul pilihan tiap individu ya, karena semua hal ya pasti ada dua-duanya…

    Like

Comments are closed.