This Morning (part 2)

this morning langit gelap dan hujan turun setelah subuh. kepala saya sakit karena masih dalam pengaruh PMS premenopause. tapi saya harus bangun karena pekerjaan telah menanti.

ketika sedang membersihkan toilet, hujan masih turun dan langit masih juga gelap. saya pernah baca info tentang musim dingin di Eropa bisa membuat orang depresi karena berbulan-bulan gelap tanpa matahari. langit gelap memang kadang bikin semangat menguap entah ke mana.

ketika sedang menyiram lantai yang telah selesai digosok, saya teringat dengan ‘kegelapan’ pergumulan Yesus di malam sebelum IA disalib. Yesus berdoa.. “Bapa, kalau boleh, jauhkanlah daripada-Ku penderitaan yang harus Kualami ini. Tetapi jangan menurut kemauan-Ku, melainkan menurut kemauan Bapa saja.” Yesus mengalami pergumulan berat ketika berada di taman Getsemani itu. Seorang malaikat bahkan datang dan menguatkanNya, karena Yesus sangat menderita secara batin, sehingga IA makin sungguh-sungguh berdoa. keringat-Nya seperti darah menetes ke tanah.

siapa di antara kita yang rasanya ingin segera quit leaving the suffering part ketika perjalanan terasa semakin berat? entah itu masalah kesehatan, masalah karir, masalah relasi, masalah finansial, masalah perilaku, masalah kepribadian, dan banyak lagi segudang masalah lainnya. saya rasa, jika memungkinkan, setiap kita ingin segera mengakhiri masalahnya dan segera melompat to the happy ending part, betul?

but then i remember that Jesus dengan taat mengikuti kehendak Bapa-Nya dan pergi ke atas salib untuk menunaikan tugas menyelamatkan umat manusia dari kematian kekal, sehingga once again, kita bisa hidup bersama kembali bersama Bapa di surga kelak, di langit dan bumi yang baru.

**

satu malam, di masa-masa awal pertobatan saya di tahun 2018, saya pernah ingin absen menghadiri kebaktian mingguan malam hari. males banget rasanya pergi. waktu itu masa-masa dimana saya betul-betul baru belajar berkawan lagi, belajar bersosialisasi lagi. jadi memang sayang rasanya jika absen malam itu. tapi di sisi lain, rebahan rasanya lebih enak daripada pergi.

nah, sewaktu sedang rebahan (karena waktu itu semangat saya bener-bener sedang lenyap dan bener-bener malas beranjak dari rumah), saya mendengar satu suara berkata, “Kalau kamu absen malam ini, kamu akan semakin lama sembuh.” Mendengar peringatan tersebut membuat saya segera bangkit dan bersiap pergi karena yang saya inginkan adalah sembuh.

esok paginya saya memang tidak otomatis langsung sembuh. tidak. kesembuhan itu memerlukan proses panjang. bahkan sampai sekarang, empat tahun kemudian, saya masih terus berjuang. dan memang begitulah kehidupan ini. rangkaian perjuangan demi perjuangan. setiap hari.

saya bersyukur karena malam itu Tuhan mengingatkan saya for not giving up.

yes, our suffering is real. but if we choose to keep going, kita akan melihat keindahan-keindahan di sepanjang perjalanan ini. kita akan melihat bagaimana karakter kita bertumbuh, relasi kita membaik, keluarga kita membaik, kepribadian kita membaik. so let us walk together with Jesus coz He didn’t quit. Yesus berdoa meminta kekuatan kepada Bapa dan kita bisa melakukan hal yang sama. He’s always there, and He’s not silent.