Apa itu Boundaries?

Pernahkah kalian melihat anak sekolah yang jengkel karena temannya meminjam tugas dari dia tapi si teman ini tak pernah mengerjakan sendiri PR-nya? Jadi si anak yang meminjam tugas ini cuman copy paste pekerjaan orang lain. Dan, si anak yang jengkel tersebut tetap membiarkan dan tetap meminjamkan karena alasannya: kalo gak dikasi ntar temennya kasian; solidaritas. Nah, sebenernya anak yang jengkel ini tidak punya batasan yang sehat.

Bicara boundaries sebenernya tujuannya agar kita tidak kehilangan diri kita, namun tetap dapat mengerjakan hobi kita, dan tetap merasa dihargai.

Boundaries adalah batasan wilayah hal mana yang bisa diterima, bisa dikompromikan, dan mana yang tidak. Jadi boundaries ini semacam pagar. Personal space. Misalkan kita punya rumah, nah rumah kita pasti punya batasan wilayah yang mana orang lain tidak boleh sembarangan masuk. Lalu di dalam rumah ada ruang-ruang; ada ruang dapur, ruang toilet, ruang tamu, dlst.

Misalkan ada tamu datang, tentunya tamu mesti ketok pintu dulu dong, kan? Dan sebagai tamu biasanya kita bisa masuk hanya sampai ruang tamunya. Jadi, belajar boundaries ini akan menolong kita mengenali mana tanggung jawab kita dan mana yang bukan tanggung jawab kita; mana yang milik kita dan mana yang bukan milik kita. Tujuannya agar kita bebas bermain dan bertanggung jawab di area kita, sehingga kita tidak perlu masuk ke batas wilayah orang lain tanpa izin. Kenapa? Karena kita tidak bisa mengontrol orang lain dan kita tidak bisa membuat keputusan atas hidup orang lain.

Jadi, belajar boundaries ini akan menolong kita merawat apa yang menjadi tanggung jawab kita, dan menjaga hal-hal yang berharga dalam hidup kita. Karenanya kita harus tegas dalam hidup dan mesti tahu batasannya supaya hidup kita tidak diacak-acak dan tidak diterobos orang lain.

TUHAN memberi batasan pada kita seperti yang terjadi di dalam Taman Eden untuk kebaikan dan kesehatan kita. Jadi ada batas-batas yang tidak boleh dilanggar. Beberapa di antaranya:

  1. Fisik: sejauh mana orang lain bisa memperlakukan tubuh kita. Lalu, kita perlu makan minum dan istirahat. Misal: lima jam untuk kerja, dan dua jam untuk istirahat. Kita tidak perlu merasa bersalah beristirahat karena kita memerlukannya untuk kesehatan kita.
  2. Waktu: tentukan kapan waktu untuk keluarga, untuk sosial, dll. Sehingga kita tak perlu merasa bersalah karena kita sudah prioritaskan waktu kita. Kalau kita sudah tentukan prioritas kita, kita bisa menolak dan tidak perlu membahagiakan semua orang.
  3. Emosi: kita perlu tahu kekuatan diri kita. Misal ada orang mau curhat, nah kita mesti tentukan batasannya sampai mana kita perlu mendengarkan. Atau misalkan ada orang yang sudah terlampau sering merendahkan dan mengganggu, maka kita punya hak untuk hindari orang itu. Nah, di sini kita perlu belajar juga agar kita tidak menjadi orang yang toksik (yakni orang yang cenderung menebarkan energi negatif). Atau misalkan ada orang pinjam mobil dan enggak diurus, ya kita boleh bilang ke mereka mesti diapakan mobil itu.

Pentingnya & keuntungan orang memiliki batasan: agar kita tidak dikontrol orang lain dan dapat menjadi diri sendiri serta bisa bertumbuh maksimal (in a good and positive way tentunya). Kemudian dengan memiliki batasan kita akan melindungi diri dari pihak yang ingin memanipulasi/memanfaatkan.

Batasan ini menjaga hal baik tetap di dalam diri kita dan hal buruk tetap di luar. Lalu dengan adanya batasan kita bisa membedakan mana keinginan orang lain dan mana keinginan kita. Batasan juga membantu membangun hubungan yang sehat dengan orang lain. Makanya batasnya mesti jelas.

Batasan yang jelas akan menjaga hati kita, dan menjaga kestabilan jiwa kita. Seperti kata Amsal: “jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan.”

Batasan adalah parameter. Sehingga kita mengerjakan hal-hal tidak melebihi tanggung jawab kita. Makanya kita perlu belajar memahami kebutuhan orang lain dan kebutuhan kita.

Batasan yang jelas membuat kita tahu perannya masing-masing. Peran sebagai teman, peran sebagai orang tua, peran sebagai wali murid, peran sebagai anak, dlst.

Treat others how you want to be treated.” Ini golden rule Yesus. Jadi selain kita membuat batasan kita pribadi, kita pun perlu menghargai batasan orang lain. Dalam berbicara, misalnya, kita mesti hati-hati karena orang yang bicara asal-asalan tidak tahu boundariesnya. Memaksakan ide pada orang lain pun termasuk menabrak batasan orang lain. Atau orang lain bikin keputusan A tapi kita langgar, nah itu artinya kita tidak menghargai batasan yang ditetapkan orang lain.

Kenapa ada orang enggak hormati batasan? Mungkin karena mereka takut ditolak atau takut dibilang sombong, dll. Makanya mungkin kita perlu evaluasi karena mungkin kita enggak serius menetapkan batasan. Misal: menetapkan batasan jam malam jam berapa; kita mesti serius dan kita mesti tegas minta orang lain mematuhi batasan kita, dan kita juga mesti tegas patuhi batasan kita. Tidak boleh plin-plan.

Menetapkan batasan perlu diulang-ulang dikomunikasikan karena kita manusia memang pelupa. Misal, kita lagi nongkrong sama teman dan kita udah tetapkan batasan pulang jam 10 malam. Jadi kalau teman nongkrong kita membujuk untuk tetap tinggal, kita bilang: “saya pulang jam 10.” Nah, kapan-kapan kalau nongkrong lagi kita beritahu lagi: “saya udah pernah bilang bahwa saya pulang jam 10.” Konsisten.

Kita enggak bisa berasumsi orang lain tahu apa yang kita inginkan atau tahu batasan kita. Makanya kita perlu ngomong dan mereka perlu melihat tindak-tanduk kita ketika mereka melanggar batasan kita.

Remember we’re not people pleaser. Kita mesti ingat kapasitas diri kita, mesti kenali diri kita, dan tahu prioritas kita.

Apa tandanya bahwa kita perlu batasan? Biasanya kita akan sering merasa kewalahan dari segi waktu, fisik, tenaga, dana, dll. Lalu kita mulai hindari panggilan telepon, hindari watsap berhari-hari, dan hindari orang yang meminta sesuatu. Jadi secara lahir batin sudah lelah sehingga tidak ada waktu untuk memikirkan kesehatan dan kebaikan diri sendiri.

Apa tandanya seseorang sulit tetapkan batasan? Sering merasa menjadi korban, merasa harus memberi terus, dan selalu setuju kepada orang lain padahal sebetulnya tidak. Kemudian sering merasa bersalah kalau mau ‘me time’ atau istirahat.

Cara tetapkan batasan sehat: kita perlu kenali diri kita, kemudian tahu tujuan dan tanggung jawab kita, serta kita tahu prioritas kita. Jadi misalkan tujuan kita adalah ingin tubuh sehat dalam usia 40-an. Nah, kita lakukanlah langkah-langkah supaya tubuh kita sehat. Misalnya: mencari tahu apa makanan yang perlu dimakan, dan apa yang tidak perlu dimakan; lalu istirahat minimal 6 jam sehari; kemudian pikiran diisi dengan hal-hal terpuji, atur stres, dll.

Atau misalnya kita mau bantu orang lain dalam dana, maka kita bisa bantu dengan logis. Mesti tetapkan batasan berapa banyak hendak dibantu, supaya kita pun tetap dapat hidup dengan cukup dan tidak berhutang. Jadi, walaupun kita bantu orang lain, jangan pula kita jadi berhutang dan enggak makan dalam sebulan. Itu tindakan keliru dan salah.

Jadi ingat keempat hal tadi: kenali diri kita, tujuan kita, tanggung jawab kita, dan prioritas kita.

**

(Disadur bebas dari siaran radio salah satu lembaga konseling di Indonesia and my personal study about boundaries dari sana-sini. Silakan baca https://gotquestions.org/boundaries-biblical.html untuk mengetahui lebih banyak tentang boundaries.)

2 thoughts on “Apa itu Boundaries?

  1. Setujuuu banget 👍. Banyak orang ga peduli batasan, ya karena takut ntr ga ditemenin lagi, dimusuhin, dicap ga asyik dll. Padahal menetapkan batasan bukan karena kita mau menjauh dari mereka atau ga asyik, tapi karena tahu tanggung jawab dan prioritas.

    Suami so far ngizinin aku utk traveling Ama temen, tapi menetapkan batasan maksimal 2 Minggu kalo LN dan seminggu kalo domestik. Aku Patih dengan syaratnya, dan bilang ke temen yabharus segitu waktu maksimalnya, atau aku ga bakal ikut. Untungnya semua temen2ku pada pengertian sih, dan mereka sadar kalo aku punya anak dan suami, jadi ga mungkin bisa sebebas mereka yg masih lajang.

    Menurutku sih, kalo temen2 pada ga ngerti dan masih memaksakan maunya mereka, ya bukan temen yg baik. Yg begitu malah males aku temenin 😅

    Like

    1. untunglah temen2 mbaknya pada pengertian ya.. seneng kita kalo punya temen yang pengertian gitu 🙂 makasih udah mampir ya mbak Fanny 🙂

      Like

Comments are closed.