Memoar Natal dan Tahun Baru

Halo semua apa kabarnya?? Udah lama aku absen menulis di sini karena beberapa bulan kemarin aku puasa. Ada beberapa hal yang perlu kuminta sama Tuhan sehingga aku perlu puasa supaya IA berkenan memberikannya. Namanya orang minta sama Tuhan tangan kita di bawah, Dia di tahta-Nya. Kalau dikasi ya syukur, dan kalau enggak dikasi pun ya syukur juga. Yang penting aku sudah berusaha meminta. Sekarang aku kembali menulis di sini. Yuhuu! πŸ˜€

Natal tahun ini dominan dengan cuaca dingin, berangin, mendung, hujan. Bisa dibilang bulan Desember ini memang lebih dingin dari bulan-bulan sebelumnya. Di Bekasi cuaca bener-bener enak banget pagi hari. Diselimuti kabut dan embun bening muncul dimana-mana menghiasi dedaunan, menjadikan udara begitu segar, dan kuhirup udara bersih nan sejuk ini sebanyak-banyaknya.

Seminggu menjelang Natal kami mengadakan Christmas Lunch di Jakarta bersama teman-teman seperjuangan yang pernah mengenyam kehidupan di Balikpapan. πŸ™‚ Acaranya seru, tempatnya bagus dan makanannya enak. πŸ™‚ Kami bahkan bertukar kado! πŸ˜€ Teman saya nyeletuk ketika melihat kado dari saya: β€œwah ini niat banget kadonya..” Yes i did.

Aku niat banget emang. Mencari kadonya niat, mencari kertas pembungkusnya pun niat, dan membungkusnya pun niat. πŸ˜€ Aku bahkan memasukkan kartu ucapan selamat Natal. πŸ˜€ Soal kartu ucapan ini aku terinspirasi dari adikku. Beberapa kali dia pernah mengirimi kami hadiah disertai kartu ucapan di dalamnya dan aku amat menyukainya. Jadi aku ingin melakukan hal yang sama kepada orang lain. Kenapa enggak, iya toh ? πŸ™‚

Pokoknya senang bangetlah bisa ketemu lagi dengan ibu-ibu baik hati tersebut. Bagiku pertemuan itu semacam reuni mini karena udah beberapa tahun absen berjumpa. πŸ™‚

Di hari H tanggal 25 Desember, aku membaca buku Rumah Kecil di Rimba Besar Laura Ingalls, tepat pada bab yang menceritakan suasana Natal. Buku Rumah Kecil ini adalah kisah nyata masa kecil keluarga Laura Ingalls yang hidup sebagai pionir di Amerika Serikat. Kisah Natal mereka sungguh menghangatkan hati. πŸ™‚

Keluarga Laura mendapat kunjungan dari Paman Peter sekeluarga yang datang sehari sebelum Natal. Aku sendiri dikunjungi oleh keluarga kakak ipar di hari Natal. Kakak datang membawa banyak peyek kacang dan kue bolu. πŸ™‚ Peyeknya renyah dan gurih. Kalau tidak menahan diri aku bisa menghabiskan semua peyeknya haha. πŸ˜€ Keesokannya tanggal 26 keluarga adikku datang berkunjung membawa oleh-oleh dari Jogja. Mereka bercerita soal olahraga pilates yang manfaatnya amat mereka rasakan. πŸ™‚ Aku pun terinspirasi untuk mencobanya di tahun 2023 ini, demi hidup yang lebih sehat. πŸ™‚

Renungan dan Tema Natal tahun ini adalah β€œ..dan pulanglah mereka ke negerinya melalui jalan yang lain.”

Tema ini diambil dari kisah tiga orang majus ahli perbintangan yang pergi mengikuti bintang besar gilang gemilang yang menjadi penunjuk jalan mereka untuk datang kepada Yesus. Mereka sempat mampir berjumpa Herodes, yaitu raja yang berkuasa di negeri Yudea saat itu, untuk bertanya di mana raja yang baru lahir. Herodes pun kaget karena dia tidak tahu apa-apa soal bayi raja yang baru lahir. Maka ia berpesan kepada ketiga ahli perbintangan tersebut agar mereka kembali kepadanya jika telah menemukan di mana tempat bayi yang baru lahir itu, supaya dia juga dapat pergi menyembah si bayi. Namun, pada kenyataannya, niat Herodes bukan mau menyembah, melainkan mau membunuh bayi Yesus karena ia merasa posisinya sebagai raja terancam.

Dengan kuasa ilahi, ketiga ahli perbintangan tersebut diarahkan supaya tidak kembali kepada Herodes melainkan pulang ke negeri mereka melalui jalan yang lain. Dan luar biasanya, ketiga orang ini mematuhi tuntunan ilahi tersebut.

Aku sedikit bertanya-tanya apa gerangan arti tema Natal tersebut. Setelah mendengar renungan dan membaca di sana-sini, rupanya artinya adalah: jika kita telah bertemu Yesus maka kita tidak lagi kembali ke jalan kita yang lama maupun ke gaya hidup yang lama sebelum bertemu Yesus; melainkan hidup kita mesti terus dibaharui oleh Kristus.

Yesus mencintai orang berdosa; Ia memaafkan, menyembuhkan dan menyelamatkan. Seperti itu jugalah kiranya hidup kita berdampak pada dunia di sekitar kita. Pikiran kita pun mesti dibaharui. Misalnya makan di warteg namun dengan cara berpikir yang bersyukur maka makan apa pun pasti akan tambah nikmat. (setuju banget bok! :D)

Beberapa hari setelah Hari Natal temanku berkabar mengajak ketemuan. Walau agak kurang sehat kuiyakan ajakannya. Mengingat bahwa kami udah lama enggak bersua dan belum tentu tahun berikutnya kami dapat berjumpa lagi, aku mengambil kesempatan baik tersebut. Jadilah kami ketemuan di Jakarta. Bertiga. Kami berbagi cerita seputaran hidup. Temanku yang satu akan pindah ke tempat baru. Sementara temanku satunya lagi baru saja ditinggal ayah tercinta karena berpulang kepada Tuhan. Aku sendiri sedang berada dalam fase hidup yang kusebut sebagai ‘the second journey era’. Jadi kami bertiga bisa dibilang memiliki kesamaan, yakni sedang sama-sama berada dalam fase perubahan hidup yang cukup signifikan. Well, hidup memang terus berubah, kan? Seperti kata pepatah: β€œyang konstan adalah perubahan.” Kita terus berkembang, bergerak, bertumbuh, belajar, berproses.

Seorang temanku yang lain mengirimkan ucapan selamat Natal dengan menyertakan kutipan dari Filipi 4:4: “bersukacitalah senantiasa di dalam Tuhan.” Ini mengingatkanku bahwa kalau mencari sukacita memang mestilah di dalam Tuhan, bukan di dalam yang lain. Sukacita bukanlah merasa bahagia atau senang terus-menerus.

Perjumpaan dengan teman-teman maupun keluarga adalah hal yang baik dan memang perlu dilakukan agar persahabatan terus terbina dan hati kita terhibur. Namun ketika acaranya bubar dan kami pulang ke rumah masing-masing dengan berbagai printilan dan masalah di dalamnya, kita sadar bahwa waktu dan kebersaman yang kita miliki amat terbatas. Namun inilah yang kupelajari akhir-akhir ini, yaitu: waktu dan kebersamaan kita dengan Yesus tidak dibatasi oleh waktu atau oleh siapa pun atau oleh apa pun. IA selalu dekat dengan kita setiap saat. Ini kebenaran mutlak yang tidak terbantahkan, dan itulah yang ditawarkan Yesus, yaitu damai dan sukacita yang bukan karena ketiadaan perang atau ketiadaan masalah hidup, melainkan damai dan sukacita yang datang karena IA beserta kita.

Terakhir, tengah malam hingga dini hari tadi kami berkumpul untuk kebaktian Tahun Baru. Aku bilang tema tahun ini adalah: kesederhanaan dalam kebersamaan. πŸ™‚ Aku banyak merenungkan perjalanan kami selama tiga ratus enam puluh lima hari yang luar biasa ini. Melihat kembali ke belakang, aku tahu Tuhan selalu ada di sana bersama kami dalam segala suka maupun duka, dan Dia juga akan terus bersama kita hari ini dan ke depannya.

Selamat memasuki tahun 2023 untuk kita semua! Btw, kalian ada cerita apa yang menarik di musim liburan kali ini? πŸ™‚

Advertisement

2 thoughts on “Memoar Natal dan Tahun Baru

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s