Memaknai Pertambahan Usia dan Perubahan Hidup

Hidup adalah series of seasons. Ada musim menabur, menuai, memanen, musim semi, musim dingin, dll. Sekarang ini aku memasuki perjalanan paruh kedua dalam hidup, atau yang kusebut sebagai the second journey era, dikarenakan pertambahan usia dan perubahan di sana-sini.

Beberapa perubahan yang paling terasa dan juga beberapa pelajaran penting yang kudapat antara lain adalah:

  • Yang pertama.. aku sekarang senang bertemu orang dan mendengarkan cerita mereka. Setiap kita adalah the image of God atau imago Dei, sehingga setiap orang berharga untuk didengarkan. Dari obrolan kita bisa belajar banyak hal. Kita cuman punya dua mata dan pengetahuan kita terbatas. Sehingga, melalui percakapan akan membuat kita belajar dari mereka. Menghafal biasanya cepat lupa, namun kita cenderung mengingat conversations.

  • Yang kedua.. wisdom dari alkitab yang mengatakan: “Biarlah telingamu cepat mendengar dan mulutmu lambat berkata-kata” ini bener banget. Belakangan aku makin sering mempraktekkan ini. Aku belajar terus supaya mulutku tidak langsung reaktif memberi respon jika orang lain bilang sesuatu. Aku beri jeda untuk mengolahnya dalam pikiranku dan tentu memberitahu kepada Tuhan terlebih dahulu (berdoa). Hasilnya memang terbukti lebih baik. Contohnya beberapa waktu yang lalu seseorang mengatakan satu ide kepadaku. Nah, respon pertamaku adalah aku ingin menyanggah dan membeberkan sejumlah fakta terkait isu tersebut. Namun, aku kemudian menahan mulutku, lalu berdoa dan akhirnya… aku enggak kuatir lagi.

  • Yang ketiga.. kalau kita sudah berjanji pada Tuhan, kita mesti menepatinya. Nurani akan menegur jika kita ingkar.

  • Yang keempat.. sekarang aku tuh menata rumah udah berubah. Kalau dulu aku berusaha selalu rapi kayak display rumah-rumah contoh atau kayak rumah-rumah picture perfect yang muncul dalam review di majalah-majalah, nah sekarang udah enggak lagi. 😁 Kebersihan tentu masih terus kujaga semampuku, namun, soal penempatan barang, ya udahlah lo mau letakin dimana pun rapopo. 😁 Yang penting rumah masih ada sebagai tempat untuk bekerja, pulang, dan beristirahat. Gitu aja bro.😁

  • Yang kelima.. focus on what really matters. “Semua diperbolehkan, tapi tidak semua berguna,” kata salah satu wisdom dalam alkitab. Semakin belajar terapkan saringan THINK before doing things. THINK: is it TRUE? HELPFUL? INSPIRING? NECESSARY? KIND? Dan bener-bener harus ingat bahwa audiens atau penonton utama hidup kita adalah Tuhan. Makanya kita bener-bener mesti berhati-hati dalam apa pun yang kita kerjakan, dan tetapkan batasan jelas.

  • Yang keenam.. ini bisa dibilang adalah pelajaran paling berharga yang kudapat dalam beberapa tahun belakangan ini, yaitu: “tugas kita adalah mencintai orang-orang, bukan mengubah mereka.” Kalau kita ingin mengubah seseorang menjadi seperti yang kita mau, sebenernya itu artinya kita hanya mencintai diri kita dan tidak mencintai mereka.
  • Yang ketujuh.. hidup ini rapuh dan kita mudah jatuh dalam kekecewaan, kekuatiran, dlst. Itu sebabnya kita menambatkan harapan pada Tuhan, bukan pada manusia. Kira-kira bulan september kemarin, waktu itu aku galau abis karena suatu masalah. Nah, setelah kudoakan, aku dapat konfirmasi dua kali dari Tuhan dalam bentuk wisdom dari alkitab yang sama persis. Pertama kudapat dari renungan, dan yang kedua kudapat dari bumper stiker mobil yang sedang berhenti di depanku. I mean, dari segala mobil yang ada di Bekasi koq bisa-bisanya mobil itu yang persis berada di depanku. Jadi ya itulah konfirmasi dariNya yang berbunyi: “Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada Tuhan, sebab Ia yang memelihara kamu.” Keren kali ya, Tuhan itu?
  • Yang kedelapan.. i’m a sinner, living with other sinners, in a sinned world, and of course i’m making mistakes every day; lantas, bagaimana mungkin aku berharap orang lain untuk sempurna? Maka untuk menangkalnya, aku mesti rajin berefleksi & meditasi melalui journaling, rajin minta maaf sama Tuhan, rajin memaafkan, dan rajin mengucap terima kasih kepada Tuhan. Also belajar to choose grace. ♥️I think grace is semacam ‘kebaikan yang tidak layak kita terima’. Tapi kurasa grace pada dasarnya adalah sesimpel kita melakukan kebaikan. Misalnya ada orang lagi haus ya kasi minumlah. Kek gitu kira-kira.
  • Yang kesembilan.. cara orang belajar beda-beda, makanya cara Tuhan mengajari kita pun beda-beda. Tuhan mengajari kita dengan apa yang kita miliki atau melalui apa yang ada pada kita, dan dengan cara-cara yang dapat kita mengerti. Kalau seseorang diajari melalui hal-hal yang tidak ada padanya, mana mungkin dia bisa belajar, dan dia tidak akan belajar apa pun. Misal, kita diajarin soal kereta api tapi tinggalnya di Kalimantan, tentu enggak pas karena di sana enggak ada kereta api. Nah, berangkat dari kesadaran ini, pengetahuanku tentang Tuhan nambah lagi, yaitu, Ia Allah yang personal dan mengetahui hidup kita secara rinci. Amazing, ya?
  • Yang kesepuluh.. one step at a time. Waktu di awal-awal pertobatan semenjak agustus 2018, aku bener-bener berharap ada formula ajaib yang simsalabim dalam sekejap bisa membuatku berubah menjadi lebih sabar, lebih baik, lebih rendah hati, dll. Tentu saja enggak ada hal semacam itu. Semua perlu proses dan mesti dikerjakan satu-satu dengan tekun. Berlatih terus. Ora et labora. 😊

Itu dia beberapa yang bisa kuingat. How about you folks? Perubahan apa yang paling terasa belakangan ini? Atau apa pelajaran penting yang kamu dapat belakangan ini?

Advertisement

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s