Catatan (agak) Panjang Tentang Kematian dan Hidup

Hari Sabtu di awal bulan September kemarin saya sedang asyik membaca bab kelima buku The Making Of Us yang ditulis oleh Sheridan Voysey. Bab tersebut berkisah tentang kematian. Sheridan bilang, “Jadi ketika engkau meninggal, apa yang akan diingat orang tentangmu? They won’t remember about your trophy, lulusan mana, gaji berapa, or things like that. Tapi mereka biasanya akan berbicara tentang:

“dia orang baik karena menolong saya waktu saya terjangkit covid dulu..” 

“dia berbaik hati mengantar saya ke airport pas saya mau pulang ke jakarta..” 

“dia senang memberi nasihat membangun dan positif..” 

“dia baik sekali mau menolong kami mengurus mutasi kendaraan..” 

and so on.. and so on..””

Hari berikutnya, Minggu, saya mendapat kabar bahwa salah satu keluarga kami telah berpulang kepada Tuhan. Seperti disebutkan Sheridan itu, yang pertama kali terlintas dalam benak saya adalah hal-hal baik yang saya lihat dan rasakan yang telah beliau lakukan selama ini.

Ke Rumah Duka

Hari pertama saya pergi melayat ke rumah duka i heard a short renungan from the pastor. Ia berkata bahwa sebagai manusia kita terbatas dalam memberikan penghiburan kepada mereka yang sedang berduka. Kita terbatas dalam perasaan, terbatas dalam tindakan, dan terbatas dalam banyak hal. Tetapi Roh Allah yang kudus dapat menembus segala dimensi dan waktu.

Meresponi pesan beliau, saya berusaha mengingat-ingat apa yang saya lakukan untuk menghibur orang yang sedang berduka. Seringkali saya hanya bisa berkata:

“yang tabah ya..”

“tetap semangat..”

“tetap sabar..”

“jaga kesehatan.. ”

“berdoa sama Tuhan..”

And that’s it. So, yes, i was totally agree with what the pastor said. Kita terbatas dalam banyak hal.

Hari kedua saya ke sana adalah waktunya memberi penghormatan terakhir untuk beliau. Dalam acara singkat untuk keluarga inti, salah satu sepupu saya terisak ketika ia hendak menyampaikan salam perpisahan. Saya pun jadi ikutan nangis mengenang interaksi saya dengan almarhumah selama hidup.

Seorang bijak pernah berkata, “Pergi ke rumah duka lebih baik daripada pergi ke pesta..” Alasannya karena dalam acara duka, si keluarga yang sedang berduka akan merasa diperhatikan karena tamunya datang untuk menolong mereka melewati masa berduka tersebut. Sementara kalau ke pesta -karena pesta umumnya acara bahagia- entah kita datang atau enggak, ya biasanya yang berpesta heppi-heppi aja. Namun tentu, dalam kedua acara ini diperlukan rasa solidaritas. 

Niat Baik 

Saya juga teringat dengan seorang pria yang pernah bekerja di kantor pelayanan yang mengurusi komplain para penghuni di komplek kami. Beberapa kali saya berniat mengantar kue untuk beliau dan para kru kantor, namun, niat tersebut tak kunjung saya lakukan karena berbagai kesibukan. 

Suatu pagi, saya mendengar pengumuan dari pengeras suara mesjid bahwa Bapak H (nama beliau) telah berpulang kepada Tuhan. Saya bener-bener kaget karena sehari sebelumnya beliau masih terlihat wara-wiri dan hari-hari sebelumnya pun kami masih berjumpa.

Yang membuat saya makin sedih adalah karena saya punya niat yang belum saya tunaikan. Lupa terus karena saya pikir pasti akan berjumpa beliau lagi esok harinya seperti biasa. Tapi rupanya tidak.

Pengalaman tersebut bener-bener menyentak saya dan tidak ingin mengulangnya lagi. Kalau sudah punya niat baik ayo lakukan segera karena waktu yang kita miliki adalah hari ini. Bukan besok, bukan kemarin.

Dan dari beberapa peristiwa kematian yang telah saya lihat, saya belajar bahwa hal-hal buruk yang tidak enak yang pernah terjadi antara kita dan mereka (yang telah meninggal) sama sekali tidak berharga dan tidak berguna setelah orangnya meninggal. Hal-hal tidak enak tersebut seperti suatu episode yang tidak perlu diingat karena memang yang paling penting adalah seperti kata Sheridan di awal tadi.. “Biasanya orang hanya mengingat hal-hal baik yang kau lakukan..”

Notes & Questions

Keseluruhan momen ini membuat saya kembali menggali catatan-catatan dari diskusi soal kematian yang pernah saya ikuti. Ini beberapa:

• Kematian itu menyedihkan. Yesus bahkan menangis ketika Lazarus meninggal.

• Karena itu kita mesti saling menguatkan, saling menghibur, saling mendukung.

• Ingatlah Firman Tuhan, dan syukuri yang telah terjadi pada kita. Ingatlah betapa besar kasih dan penyertaan Tuhan selama ini.

• Selagi kita hidup, pakailah waktu sebaik-baiknya untuk melakukan yang baik.

• Detik ketika seseorang meninggal, maka detik itu juga hubungan orang tersebut sudah putus sama sekali dengan dunia manusia.

• Pertanyaan: mengapa orang meninggal dipakaikan baju rapi dan bagus? Jawab: manusia terdiri dari tubuh, jiwa, dan roh. Jadi memakaikan baju rapi dan bagus adalah penghargaan kepada tubuh. Seseorang dikenal dari tubuh mereka, maka kita wajib menghargai tubuh. Kemudian misalnya orang tua kita meninggal, kuburannya kita uruslah dengan baik, karena itu juga merupakan penghormatan kepada orang tua yang telah meninggal.

• Pertanyaan: bagaimana dengan berdoa di kuburan? Jawab: berdoa bisa dimana saja, namun isi doa mestilah tertuju kepada Tuhan.

• Pertanyaan: untuk apa ada acara peringatan orang meninggal? Jawab: tujuannya mengingatkan manusia yang masih hidup bahwa kita pun akan meninggal suatu saat nanti. Kematian adalah bukti bahwa manusia berdosa. Upah dosa adalah kematian selamanya di neraka. Namun, Kristus telah menyelamatkan kita sehingga kita dapat hidup bersama-sama dengan Dia. 🙂

• Pertanyaan: kenapa bisa mimpi ketemu dengan orang tua yang sudah meninggal? Jawab: sebetulnya hati kita sedang rindu kepada orang tersebut; alam bawah sadar kitalah yang bekerja selagi kita tidur.

• Pertanyaan: kalau seseorang lagi sedih lalu pergi ngomong-ngomong di kuburan, bagaimana dengan itu? Jawab: Segala sesuatu diperbolehkan, tetapi tidak semuanya berguna. Ngomong-ngomong di kuburan orang yang sudah meninggal itu enggak berguna. Kenapa? Karena orang yang sudah meninggal tidak bisa menolong kita lagi.

• Pertanyaan: jika sedang rindu kepada orang tua saya yang telah meninggal, saya bilang kepada Tuhan: “Tuhan, titip rindu untuk orang tuaku ya..” bagaimana tentang pernyataan ini? Jawab: Kristus adalah Tuhan dari semua orang yang hidup dan yang mati, sehingga kita selalu dapat berbicara kepada Kristus, dan kita selalu dapat berhubungan dengan Kristus. Maka jika kita rindu kepada orang-orang yang kita sayangi, kita dapat menyampaikannya kepada Kristus.

Berapa Usianya?

Dan setiap kali ada berita orang meninggal biasanya yang pertama-tama saya cari tahu adalah usianya. Kenapa usia? Jujur, karena penasaran doang. Tapi belakangan ini saya menjadi semakin sadar bahwa usia berapa pun tidak menjadi soal ketika kita meninggal. Usia anak-anak pun bisa meninggal, remaja juga ada. Jadi, i think, entah berapa panjang usia kita di bumi ini, itu sudah cukup di mata Tuhan untuk kita jalani.

Sungguh, kehidupan di bumi ini bener-bener amat singkat. Betul memang ada yang hidup hingga 10 dekade dan itu memang rentang waktu yang panjang. Namun, masa yang akan kita habiskan sesudah kematian akan lebih panjang dari masa yang kita jalani selagi hidup di bumi: kekal, abadi. 

So what really matter is, dalam rentang waktu kehidupan tersebut, apakah kita telah mengenal Pencipta kita yang Agung? Itulah satu-satunya hal yang penting karena kita akan kembali kepadaNya. Kalau kita enggak kenal Dia, what are we gonna say to Him when we arrived at His home?

Lubang Menganga

Pernahkah kalian merasa seperti ada lubang menganga dalam hati, yang rasanya seperti sesuatu yang tidak dapat diisi oleh apa pun di dunia ini? Aku pernah baca sebetulnya kita manusia ini merindukan kesempurnaan, kenyamanan, yang terus kita cari-cari dan kita usahakan selama masih hidup.

C.S Lewis once said: “Jika kita mendapati diri kita memiliki keinginan yang tidak dapat dipuaskan oleh apa pun di dunia ini, penjelasan yang paling mungkin adalah bahwa kita diciptakan untuk dunia lain.” Dunia dimana tidak ada lagi kesakitan, tiada penderitaan, tiada kesedihan, tiada air mata, tiada tangisan. Deep down in our soul kita memang sering mengharapkan itu, kan? 

Di rumah Bapa-Ku ada banyak tempat tinggal. Aku pergi ke sana untuk menyediakan tempat bagi kalian. Aku tidak akan berkata begitu kepadamu sekiranya itu tidak demikian. Sesudah Aku pergi menyediakan tempat untuk kalian, Aku akan kembali dan menjemput kalian, supaya di mana Aku berada, di situ juga kalian berada.. Akulah jalan untuk mengenal Allah dan mendapat hidup. Tidak seorang pun dapat datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.” Itulah yang dijanjikan Yesus, dan Ia memberitahu kita bagaimana caranya untuk dapat mengenal Pencipta kita yang Agung itu.


2 thoughts on “Catatan (agak) Panjang Tentang Kematian dan Hidup

  1. I recently experienced an almost losing someone I loved dearly and it hurts so much. Thanks for this writing, it’s a friendly reminder about death (again).

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s