Mikirin Hidup: Kekuatiran dan Yang Tak Dapat Berubah

Mikirin apa sih? Pertanyaan itulah yang sering dilontarkan kepada saya sewaktu sakit stroke like syndrome di bulan April kemarin. πŸ˜€ Ya pastinya mikirin hidup lah. πŸ˜€ Bener, kan, ya? πŸ˜€ πŸ˜€ β€œEnggak usah mikirin yang berat-berat, dek. Hati-hati makan dan nikmatilah hidup.” Itu saran dari kakak saya, yang saya terima melalui pesan singkat sewaktu terbaring di rumah sakit. Continue reading

Bagian Terakhir dari ‘Stories from Real People’

Bersyukur kepada Tuhan. Itulah yang lupa saya lakukan selama bertahun-tahun hidup dalam masa kegelapan karena menjauh dari Tuhan. Saya fokus kepada hal-hal yang tidak ada, dan lupa kepada hal lain yang sebenarnya sangat berharga dan masih ada: suami sehat dan baik, teman-teman yang peduli, masih bisa hidup dan bernafas, ada pakaian dan makanan. Itu udah lebih dari cukup. Continue reading

More Stories from Real People

Membaca kisah-kisah selanjutnya dari orang-orang yang saya mintai tolong untuk ikutan survey ini, membuat saya berpikir bahwa apa yang saya kerjakan rasa-rasanya koq enggak ada apa-apanya ya. Membuat saya merasa sangat kecil, apalagi mengingat kemarin dulu saya sempat kehilangan semangat soal memasak tempe. Sementara, di sisi lain, mereka-mereka (ada yang berprofesi sebagai dokter, penatua gereja, guru sekolah minggu, dan ibu anak-anaknya, dlst) ini, bertanggung jawab atas manusia.Β  Continue reading

Minggu Kedelapan: Stories from Real People

Belakangan ini saya kepikiran untuk bikin semacam proyek wawancara seperti yang pernah saya bikin bersama mbak Fe dari jalan2liburan dan Dentist Chef. πŸ™‚ And then, idenya muncul lagi setelah tidak sengaja membaca tentang Charles Colson dan ulasan satu bukunya berjudul Loving God.

Charles Colson ternyata pernah menjadi penasihat presiden Richard Nixon, dan pernah dipenjara karena kasus Continue reading

Momen Berharga di Kala Corona

Semangat memasak saya sedang menguap pergi kemarin pagi. Saking malasnya masak, saya sempat japri tetangga yang jago masak buat pesen makanan. Tapi ternyata dia enggak terima orderan lagi untuk di hari yang sama. Akhirnya dengan remah-remah semangat yang tertinggal, saya pun mengeksekusi tempe yang ada di kulkas. Rencananya mau dibikin orek tempe. Tapi, seringkali masakan orek tempe saya rasanya semacam ada yang kurang pas. Entah di mana letak kunci keberhasilannya. πŸ˜€ πŸ˜€ Continue reading

Catatan Paskah

Malam tadi, mata saya melek sampai kira-kira jam setengah dua. Pasalnya, sehabis maghrib saya mengantuk, dan terbangun kembali kira-kira jam sembilan malam. Lantas karena lapar, saya pun makan. Padahal udah jam sembilan malam; mestinya usus diistirahatkan. Tapi kalo perut lapar justru akan susah tidur. Apa kalian kayak gitu juga? Continue reading

Apa yang Mengendalikan Kita?

Last week, saya ketemuan dengan sepupu saya. Eldest dari tiga bersaudara. Seingat saya, terakhir kali kami bertemu sekitar belasan tahun lalu. Di toko pizza di Medan. πŸ™‚ Waktu itu ia akan berangkat ke Norwegia untuk menimba ilmu. πŸ™‚ Saya menyebutnya kakak, karna usianya lebih tua dari saya. Continue reading

Tulang

Tulang bagi orang Batak adalah sebutan bagi saudara laki-laki dari ibu. Saya punya banyak tulang karna ibu saya datang dari keluarga besar. πŸ™‚ Setelah pindah ke Bekasi, ada keinginan untuk bertemu keluarga tulang karna saya rindu. Melihat tulang maupun saudara perempuan dari ibu, rasanya seperti melihat ibu saya sendiri. πŸ™‚ Continue reading